Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Dewa Berambut Ekor Kuda Itu Bernama Roberto Baggio: Kisah Legenda, Air Mata, dan Warisan Abadi di Sepak Bola Dunia

Tulus Widodo • Kamis, 31 Juli 2025 | 19:00 WIB
Roberto Baggio bukan hanya legenda Italia, tapi simbol keindahan dan tragedi dalam sepak bola.
Roberto Baggio bukan hanya legenda Italia, tapi simbol keindahan dan tragedi dalam sepak bola.

RADARTUBAN – Di balik setiap gol dan selebrasi, ada kisah perjuangan, luka, dan kebangkitan.

Nama Roberto Baggio bukan hanya tercatat dalam buku sejarah sepak bola dunia, tapi juga terpatri di hati jutaan penggemar yang menyaksikan keindahan permainan lewat sentuhannya.

Dialah Il Divin Codino — Si Ekor Kuda, ikon sepak bola Italia era 90-an, yang menari di atas lapangan dengan kaki yang kerap diganggu cedera, tapi tetap menghasilkan sihir.

Lahir di Caldogno, Italia, pada 18 Februari 1967, Baggio memulai debut profesionalnya bersama Vicenza di usia 15 tahun.

Di klub Serie C1 itu, bakatnya mulai bersinar meski sempat diterpa cedera berat. 13 gol dari 36 laga cukup untuk membuat Fiorentina jatuh hati, memboyongnya ke Serie A pada 1985.

Di Fiorentina, Baggio menjelma jadi pahlawan. Meski kerap cedera, playmaker legendaris itu menyihir publik Florence dengan 39 gol dalam 94 penampilan Serie A.

Namun cinta itu seketika berubah jadi amarah ketika Fiorentina melepasnya ke Juventus pada 1990.

Kepindahan itu memicu kerusuhan di jalanan — itulah dampak jika dewa sepak bola direbut dari rakyatnya.

Bersama Juventus (1990–1995), Baggio mencapai puncak karier.

Dia membawa Bianconeri juara Piala UEFA 1992–93, mencetak 78 gol dalam 141 laga liga, dan meraih Ballon d’Or serta FIFA World Player of the Year 1993.

Namun era keemasan itu mulai pudar saat Marcello Lippi datang dengan filosofi baru.

Hijrah ke AC Milan (1995–1997), Baggio menyumbang Scudetto meski performanya tak seimpresif dulu.

Demi tampil di Piala Dunia 1998, dia memilih pindah ke Bologna — keputusan jitu.

Baggio membalas dengan 22 gol dalam 30 laga, membuktikan bahwa sihirnya belum habis.

Sayangnya, di Inter Milan (1998–2000), nasib buruk kembali menghantui. Cedera dan konflik internal membuatnya hanya tampil 41 kali dengan 9 gol.

Banyak bintang menutup karier di klub besar. Tapi Baggio memilih Brescia (2000–2004) — klub kecil yang justru memberinya kebebasan dan cinta.

Di sana ia menjadi legenda lokal dengan 46 gol dari 95 laga.

Baggio pensiun dengan kepala tegak, disambut standing ovation di stadion-stadion seluruh Italia.

Luka Tak Terlupa di Piala Dunia

Baggio adalah jantung Timnas Italia di era 90-an. 56 caps, 27 gol, tampil di tiga Piala Dunia. Tapi siapa yang bisa lupa Final 1994?

Lima gol ia cetak dari fase gugur, namun penalti yang melambung ke langit Brasil mengubah sejarah.

Tangis Baggio saat itu tak cuma miliknya — itu luka kolektif bangsa Italia.

Namun bagi banyak orang, pemain yang kini berusia 58 tahun itu tetap pahlawan sejati.

Gaya Main, Spirit, dan Filosofi Hidup

✓ Spesialis tendangan bebas

✓ Pengatur serangan visioner

✓ Teknik dan kontrol bola nyaris sempurna

✓ Sangat respek di semua klub yang ia bela

Di luar lapangan, Baggio dikenal sebagai pribadi spiritual dan sederhana. 

Dia menganut agama Buddha sejak usia muda — filosofi hidupnya pun tercermin dalam cara menerima kemenangan dan kekalahan.

Penghargaan Bergengsi:

✓ Ballon d’Or: 1993

✓ FIFA World Player of the Year: 1993

✓ Piala UEFA (Juventus): 1992–93

✓ Serie A: Juventus (1994–95), AC Milan (1995–96)

✓ Masuk daftar FIFA 100 pilihan Pele

Baggio bukan sekadar legenda. Pemain yang mengoleksi 218 gol dalam karier profesionalnya itu adalah perwujudan keindahan dan tragedi dalam sepak bola.

Meski lututnya berkali-kali “dibunuh” oleh cedera, ia tak pernah kehilangan kelas.

Baggio bukan hanya dikenang karena trofi atau statistik, tapi karena caranya membuat sepak bola terlihat seperti seni yang emosional dan manusiawi. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#roberto baggio #piala dunia #Sepak Bola #legenda #selebrasi #gol