RADARTUBAN – Dunia sepak bola menyimpan banyak cerita, tapi hanya sedikit yang mampu menggetarkan hati seperti persahabatan Alessandro Del Piero dan Paolo Maldini.
Dua legenda dari dua kutub rival bebuyutan—Juventus dan AC Milan—namun terikat oleh satu hal yang tak bisa dibantah: rasa hormat dan kekaguman satu sama lain.
Sebuah momen ikonik terjadi jelang Final Liga Champions 2003, saat Del Piero terlihat menyentuh kepala Maldini dengan penuh keakraban. Gestur yang sederhana, tapi punya makna mendalam.
Dalam dunia sepak bola, menyentuh kepala seorang kapten legendaris seperti Paolo Maldini bukan hal yang biasa.
Del Piero melakukannya dengan hangat—dan yang lebih penting, dengan hak penuh sebagai sesama simbol sepak bola Italia.
“Tak semua pemain bisa melakukan itu kepada seorang Maldini. Bahkan pemain sekeras Gennaro Gattuso pun bisa mendadak diam di dekatnya,” tulis media Italia dalam laporan eksklusif.
Bahkan Chiellini, yang dikenal sebagai bek bengal dan tangguh, pernah mengakui bahwa pemain paling ditakuti di ruang ganti adalah Paolo Maldini.
Tak hanya saling menghormati di lapangan, Maldini pun menyampaikan kekagumannya secara terbuka.
“Del Piero adalah simbol Juventus. Dia berjasa besar untuk Bianconeri dan merupakan salah satu pemain paling dihormati di dunia,” ujar Maldini kala itu, jelang duel akbar di Old Trafford pada 2003.
Del Piero pun tak kalah kagum. Menurutnya, Maldini bukan sekadar bek terbaik dunia, tapi simbol AC Milan sejati.
“Dia pemain kelas dunia yang bahkan melampaui istilah itu. Pemimpin sejati yang bisa mengangkat mental tim kapan pun dibutuhkan. Maldini adalah Milan itu sendiri,” ucap Del Piero.
Meski bermain untuk dua klub rival, keduanya sama-sama ikon sepak bola Italia yang membela panji Azzurri di berbagai ajang internasional.
Hubungan mereka seperti dua sisi mata uang: berbeda, tapi tak bisa dipisahkan.
Tak heran, hingga kini banyak fans sepak bola—baik dari Milanisti maupun Juventini—menganggap kedekatan Del Piero dan Maldini sebagai salah satu hubungan paling tulus dalam dunia olahraga.
Rivalitas boleh panas, tapi hormat dan persahabatan tetap jadi juara. Del Piero dan Maldini membuktikan bahwa di balik kerasnya kompetisi, selalu ada ruang untuk saling menghargai.
Dua ikon, dua simbol, satu cerita tentang sportivitas yang abadi dalam sejarah sepak bola Italia. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni