RADARTUBAN – Rambut peraknya menyala di tengah lapangan, gaya selebrasi angkat kaos sambil berlari seperti orang kesetanan jadi ciri khasnya.
Ya, siapa lagi kalau bukan Fabrizio Ravanelli, sang “Si Rambut Perak” yang jadi ikon Serie A di era 90-an.
Meski kariernya penuh liku, kiprah striker kelahiran Perugia ini mencatatkan tinta emas dalam sejarah Liga Italia dan sepak bola Eropa.
Ravanelli memulai karier profesionalnya di klub kota kelahirannya, Perugia, pada 1986.
Bermodal semangat membara dan finishing tajam, pria kelahiran 1968 itu menembus skuad utama dan mengemas 41 gol dari 90 pertandingan.
Kiprahnya yang konsisten membawa perhatian klub-klub besar, hingga akhirnya Juventus merekrutnya pada 1992.
Di sinilah kariernya meledak. Bersama Juventus, Ravanelli menjelma jadi predator kotak penalti.
Penyerang bertinggi badan 1,88 meter itu membentuk trio maut bersama Alessandro Del Piero dan Gianluca Vialli.
Puncaknya, musim 1994/1995, Ravanelli mencetak 30 gol di semua kompetisi, sekaligus mempersembahkan gelar Serie A, Coppa Italia, dan Piala Super Italia.
Tak berhenti di situ, musim berikutnya, Ravanelli mencetak gol di final Liga Champions 1996 ke gawang Ajax Amsterdam—yang akhirnya membawa Juve juara Eropa lewat adu penalti.
Statistik Ravanelli di Juventus (1992–1996):
Main: 160
Gol: 69
Trofi: 5 (Serie A, Coppa Italia, Supercoppa, Liga Champions, UEFA Cup)
Gaya bermain agresif dan ekspresi emosional membuatnya dicintai sekaligus dibenci.
Julukan Silver Fox melekat bukan hanya karena warna rambutnya, tapi juga insting mencetak gol yang licik.
Selepas sukses di Italia, Ravanelli mengepak koper ke Inggris dan Prancis. Ia membela Middlesbrough, Marseille, Lazio, hingga Derby County.
Meski usia kian menua, semangatnya tak luntur. Di mana pun bermain, Ravanelli selalu mencetak gol penting—dan tentu saja, tetap dengan gaya selebrasi legendarisnya.
Selepas gantung sepatu pada 2005, Ravanelli tak pergi dari lapangan. Pemain yang mencatatkan 22 penampilan di Timnas Italia itu memilih jalan kepelatihan, sempat menangani tim muda Juventus dan tim-tim Serie B.
Meski belum sementereng karier bermainnya, kontribusinya dalam membentuk striker-striker muda Italia patut diacungi jempol.
“Menjadi pelatih lebih sulit daripada jadi pemain. Tapi saya ingin menanamkan mental pemenang, seperti yang saya dapat dari Juve,” ujarnya dalam satu wawancara.
Ravanelli dalam Angka & Fakta
Julukan: Si Rambut Perak / Silver Fox
Postur: 1,88 meter – tangguh duel udara
Gol Terbaik: Final Liga Champions 1996 vs Ajax
Selebrasi Ikonik: Lari angkat kaos menutupi kepala
Tim Favorit: Juventus, Middlesbrough
Pensiun: 2005
Fabrizio Ravanelli bukan sekadar penyerang berambut perak. Ia adalah simbol era keemasan Serie A, saat kompetisi Italia jadi magnet pemain dunia.
Ketajamannya, gaya eksentriknya, hingga loyalitasnya pada tim menjadikan namanya tetap hidup dalam ingatan tifosi Juventus maupun pecinta sepak bola era 90-an.
Dan kini, di usia senja, “Si Rambut Perak” masih menebar inspirasi—bukan lagi lewat gol, tapi lewat ilmu dan dedikasi bagi generasi muda. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni