RADARTUBAN — Satu lagi torehan membanggakan datang dari dunia sepak bola Indonesia.
Ayu Rahimainita, perempuan muda yang sebelumnya menjadi ujung tombak berbagai kerja sama strategis antara PSSI dan FIFA, resmi bergabung sebagai staf tetap di kantor FIFA di Prancis.
Dia pun tercatat sebagai wanita Indonesia pertama yang bekerja langsung di markas federasi sepak bola dunia tersebut.
Selama dua tahun terakhir, Ayu sudah dikenal luas di internal federasi sebagai Project Manager andalan PSSI, yang mengawal berbagai program kunci seperti FIFA Forward, termasuk pembangunan Training Center PSSI di Ibu Kota Nusantara (IKN).
Ayu juga berperan penting dalam berbagai urusan strategis PSSI di level internasional.
Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, menyambut kabar tersebut dengan penuh kebanggaan.
Erick menilai pencapaian Ayu bukan hanya prestasi personal, tetapi juga representasi kualitas talenta Indonesia di panggung sepak bola global.
“Saya selalu percaya, pembangunan sebuah organisasi harus diikuti pembangunan sumber daya manusianya. Karena itu, sejak awal saya pimpin PSSI, saya lakukan review menyeluruh terhadap struktur organisasi,” kata Erick dalam pernyataan resminya.
Erick juga menyebut, penunjukan Ayu oleh FIFA menunjukkan bahwa anak-anak muda Indonesia tidak kalah bersaing dengan talenta dari negara lain.
“Ini bukti bahwa anak bangsa bisa bersaing dan dipercaya dunia internasional. Semoga ini bisa jadi pemicu semangat bagi generasi muda di PSSI untuk menembus panggung sepak bola dunia,” kata mantan bos klub Serie A, Inter Milan itu.
Nama Ayu Rahimainita memang tidak asing di kalangan internal federasi.
Perempuan yang bergelar Master di bidang Sports Management itu dikenal cekatan, detail, dan mampu menjembatani komunikasi antara PSSI dan FIFA dalam berbagai program strategis.
Dalam proyek Training Center PSSI di IKN, misalnya, Ayu ikut memastikan seluruh tahapan pembangunan berjalan sesuai dengan standar FIFA.
Kini, perempuan berusia 26 tahun itu akan melanjutkan kiprahnya langsung dari jantung organisasi sepak bola dunia di Eropa.
Kehadiran Ayu di kantor FIFA diharapkan menjadi jembatan yang akan memperkuat hubungan antara Indonesia dan badan tertinggi sepak bola dunia.
Selain itu, pengalaman dan jaringan global yang didapatkannya juga berpotensi menjadi modal besar untuk memajukan sepak bola nasional ke depan.
Tidak berlebihan jika pencapaian ini disebut sebagai simbol kemajuan PSSI dalam pengelolaan SDM, sekaligus inspirasi bagi anak-anak muda Indonesia yang bermimpi berkarier di dunia sepak bola internasional, baik di lapangan maupun di balik meja organisasi. (*)
Editor : Amin Fauzie