RADARTUBAN – Di jagat sepak bola modern yang penuh nama besar dan gelimang trofi, hanya satu nama yang mampu menaklukkan tiga kompetisi UEFA paling bergengsi di level klub: José Mourinho.
Pelatih asal Portugal ini secara resmi masih memegang rekor sebagai satu-satunya manajer dalam sejarah yang berhasil mengangkat trofi UEFA Champions League, UEFA Europa League, dan UEFA Conference League.
Tak terbantahkan, dialah The Special One dalam arti yang sebenarnya.
Sejak meniti karier kepelatihan profesional, Mourinho dikenal sebagai sosok karismatik dengan strategi taktis yang selalu mengundang kontroversi sekaligus kekaguman.
Namun di atas semuanya, ia punya satu hal yang selalu dibawa ke mana pun: mental juara.
Berikut catatan emas Mourinho di pentas Eropa:
✓ UEFA Champions League – bersama FC Porto (2004) dan Inter Milan (2010)
✓ UEFA Europa League – bersama Manchester United (2017)
✓ UEFA Europa Conference League – bersama AS Roma (2022)
Catatan ini belum bisa disamai, bahkan oleh dua pelatih besar lainnya seperti Pep Guardiola maupun Carlo Ancelotti, yang meski lebih dominan di Liga Champions, belum pernah mengangkat trofi dua kompetisi sekunder Eropa tersebut.
Meski sama-sama sukses besar di Eropa, Pep Guardiola (Spanyol) dan Carlo Ancelotti (Italia) masih punya ruang kosong di lemari prestasi mereka.
Pep Guardiola
UEFA Champions League (✓)
UEFA Europa League (X)
UEFA Conference League (X)
Carlo Ancelotti
UEFA Champions League (✓)
UEFA Europa League (X)
UEFA Conference League (X)
Tentu, ini bukan soal kualitas—karena baik Guardiola maupun Ancelotti telah menorehkan sejarah dengan klub-klub besar.
Namun secara faktual, belum ada yang mampu menandingi kelengkapan trofi Eropa yang dimiliki Mourinho.
Di tengah derasnya regenerasi pelatih muda dan filosofi baru permainan, Mourinho tetap tampil dengan gaya khasnya: pragmatis, realistis, dan selalu punya cara menang di laga penting.
Kemenangannya bersama klub non-favorit seperti Porto dan Roma justru mempertegas bahwa pria kelahiran Setubal 62 tahun silam itu bukan pelatih yang hanya sukses dengan tim bintang, tapi arsitek taktik sejati yang bisa mencetak sejarah dari bawah. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni