Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Paul Scholes Dinilai Terlalu Berlebihan, Eks Pemain Premier League Ini Sindir Terang-terangan

Bihan Mokodompit • Senin, 4 Agustus 2025 | 19:00 WIB
Paul Scholes saat masih bermain untuk Manchester United.
Paul Scholes saat masih bermain untuk Manchester United.

RADARTUBAN - Paul Scholes dinilai terlalu berlebihan oleh mantan pemain Premier League, Curtis Woodhouse, yang menyebut bahwa reputasi Scholes selama ini adalah mitos yang dibesar-besarkan sejak pensiun.

Meskipun Scholes dikenal sebagai salah satu gelandang terbaik di Premier League dan timnas Inggris, kritik tajam tetap dilontarkan terhadap legenda Manchester United itu.

 

Paul Scholes, 50 tahun, menghabiskan seluruh karier profesionalnya bersama Manchester United.

Ia mencatatkan 25 trofi bergengsi, termasuk 11 gelar Premier League, empat Piala FA, dua Liga Champions, dan satu Piala Dunia Antarklub.

Namanya kerap disandingkan dengan Frank Lampard dan Steven Gerrard sebagai gelandang terbaik Inggris dalam tiga dekade terakhir.

Namun, menurut Curtis Woodhouse, semua pencapaian itu belum cukup menunjukkan bahwa Scholes benar-benar mendominasi permainan seperti yang sering digembar-gemborkan.

Dalam pernyataannya di platform media sosial X, Woodhouse secara terbuka mempertanyakan status Scholes yang disebut-sebut kerap "mengendalikan pertandingan".

“Scholes katanya sering ‘mengendalikan permainan’ untuk Manchester United, tapi dia tidak pernah dipilih masuk ke dalam PFA Team of the Year oleh para pemain yang katanya dia kendalikan. Coba pikirkan baik-baik.”

 

Woodhouse menyoroti fakta bahwa sepanjang kariernya, Paul Scholes tidak pernah masuk dalam PFA Team of the Year, sementara Gerrard berhasil mencatatkan namanya sebanyak delapan kali.

Ia mempertanyakan bagaimana seorang pemain yang disebut sebagai pengendali lini tengah tidak pernah mendapat pengakuan dari sesama pemain profesional di liga.

“Scholes tidak pernah terpilih masuk PFA Team of the Year. Itu adalah penghargaan yang dipilih langsung oleh para pemain dari setiap tim yang bertanding di liga. Dihormati oleh rekan sesama profesional sebagai pemain terbaik adalah penghargaan tertinggi.”

Menurut Woodhouse, pencapaian Scholes banyak dibantu oleh keberadaan rekan-rekan setim yang luar biasa.

“Dia punya Roy Keane di sebelahnya, Ryan Giggs dan David Beckham di sisi kanan-kiri, serta Dwight Yorke dan Andy Cole di lini depan! Oh, dan Rio Ferdinand serta Nemanja Vidic di belakangnya! Paul Scholes ‘mengendalikan permainan’ itu cuma mitos sepak bola yang semakin dibesar-besarkan sejak dia pensiun.”

 

Fakta lainnya yang diungkap Woodhouse adalah bahwa Scholes tak pernah menerima suara untuk penghargaan Ballon d'Or sepanjang kariernya.

Berbanding terbalik dengan Lampard dan Gerrard yang masing-masing mengoleksi 169 dan 220 suara.

“Paul Scholes tidak pernah menerima satu suara pun untuk Ballon d’Or sepanjang kariernya,” tulis Woodhouse.

“Tidak ada satu orang pun yang pernah memilihnya. Pemain Inggris paling overrated sepanjang masa. Tolong akhiri perdebatan ini.”

 

Selain menyebut Paul Scholes dinilai terlalu berlebihan, Woodhouse juga menyerang reputasi Ryan Giggs.

Ia menyatakan bahwa legenda lain Manchester United tersebut juga tak seproduktif yang digambarkan.

“Ryan Giggs, satu lagi pemain Manchester United yang sangat overrated,” tulisnya di media sosial.

“Dia punya karier yang luar biasa panjang, tapi dalam tim yang mendominasi selama bertahun-tahun dan sangat produktif mencetak gol, statistik gol dan assist-nya sebenarnya buruk. Satu lagi mitos Manchester United. Pemain yang bagus, tapi tak pernah lebih dari itu.”

Kontroversi ini memicu perdebatan di kalangan penggemar sepak bola. Curtis Woodhouse memberikan pandangan alternatif bahwa Paul Scholes dinilai terlalu berlebihan dan tidak sepantasnya disanjung sebagai pengendali permainan.

Meskipun banyak yang tak setuju dengan pandangan ini, pernyataannya membuka ruang diskusi soal bagaimana seharusnya pemain dinilai, apakah dari statistik individu, pengaruh permainan, atau prestasi kolektif. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#Liga Champions #piala dunia antarklub #steven gerrard #Piala FA #Manchester United #mantan pemain Premier League #Curtis Woodhouse #paul scholes #Frank Lampard #mitos yang berlebihan