RADARTUBAN – Nama Marcello Lippi selalu identik dengan kejayaan Juventus dan Timnas Italia.
Namun siapa sangka, di balik gelimang prestasinya, sang allenatore legendaris justru menyebut bahwa Liga Champions lebih mengguncang emosinya dibanding trofi Piala Dunia.
Sebuah pernyataan yang langsung mengundang perdebatan publik sepak bola Italia.
Dalam wawancaranya bersama Tuttosport, Lippi membuka banyak cerita emosional selama menangani Juventus di era emas 1990-an.
Termasuk filosofi bermain, para pemain kunci, titik balik musim, hingga momen-momen yang masih membekas kuat di hatinya.
“Liga Champions itu lebih brutal secara emosi ketimbang Piala Dunia. Roma memberi saya sensasi yang lebih liar dibanding Berlin,” ujar Lippi, mengingat kembali malam magis saat Juve juara Eropa 1996.
Datang ke Juventus dengan semangat dan sedikit “kenekatan”, Lippi langsung menyadari bahwa ia berada di tempat yang tepat.
“Saya merasa siap. Juve saat itu haus kemenangan. Setelah sesi latihan pertama, saya tahu segalanya bisa berjalan baik,” kenangnya.
Ciri khas permainan Juventus era Lippi adalah tekanan tinggi dan partisipasi kolektif. Ia membentuk tim yang tidak menunggu, tetapi merebut bola kembali secepat mungkin.
“Saya tidak suka tim yang, setelah kehilangan bola, malah mundur dan pasif. Di Juve, semua pemain, dari striker sampai bek, ambil bagian dalam menyerang dan bertahan,” kata pelatih berkacamata itu.
Lippi juga bicara soal “beban” mengenakan jersey Juventus, sesuatu yang menurutnya hanya bisa dipikul oleh mereka yang siap secara mental dan ambisius secara naluriah.
“Kaos itu berat, melebihi kaos lainnya. Tapi mengetahui kamu mewakili Juventus adalah dorongan luar biasa,” tutur mantan pelatih Guangzhou Evergrande itu.
Meski banyak pemain hebat yang dilatihnya, Lippi menyebut bahwa Del Piero, Vialli, dan Ravanelli adalah sosok utama yang paling paham filosofi bermainnya.
Ia bahkan mengungkap dinamika unik dengan Gianluca Vialli.
“Terkadang kami sengaja berpura-pura bertengkar agar ruang ganti tetap hidup. Vialli tahu kapan harus mengguncang tim,” tutur mantan pelatih Timnas Tiongkok itu.
Lippi juga mengingat jelas final Liga Champions 1996 melawan Ajax di Stadion Olimpico, Roma. Ia memberi briefing penuh keyakinan sebelum laga.
“Mereka memang kuat, tapi belum pernah melawan tim yang berlari dan menekan seperti kami. Dan memang, malam itu, kami tim yang tak terhentikan,” ujar pelatih kelahiran Viareggio 77 tahun silam itu.
Momen kebangkitan Juve musim itu terjadi setelah laga melawan Foggia. Lippi memberi arahan tajam yang membangkitkan tim.
“Kalau kamu pemain hebat dan main untuk tim hebat, kamu harus menang. Kalau tidak, kariermu kehilangan makna,” kata mantan pelatih Inter Milan itu.
Marcello Lippi bukan hanya pelatih pemenang, tapi juga arsitek mentalitas juara. Ia membentuk Juventus menjadi mesin kemenangan yang berlari bersama, bertahan bersama, dan haus trofi.
Dan meski mengangkat trofi Piala Dunia 2006 bersama Italia, hatinya masih tertambat pada malam indah di Roma — momen yang mengukir Juventus kembali ke puncak Eropa. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni