Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Dari Bundesliga ke Serie A, Inilah Jejak Emas Legenda Jerman Lothar Matthäus

Tulus Widodo • Selasa, 5 Agustus 2025 | 15:06 WIB

 

Lothar Matthaus menorehkan rekor luar biasa di Bayern, Inter, dan Timnas Jerman
Lothar Matthaus menorehkan rekor luar biasa di Bayern, Inter, dan Timnas Jerman

RADARTUBAN – Jika sepak bola Jerman punya simbol kejayaan yang tak lekang zaman, maka nama Lothar Matthäus pantas berada di urutan teratas.

Sosok yang dikenal sebagai gelandang petarung dengan visi luar biasa ini bukan hanya legenda bagi Bayern Munich dan Inter Milan, tetapi juga figur sentral dalam sejarah emas Timnas Jerman.

Lahir di Erlangen, West Germany, 21 Maret 1961, Matthäus mengawali karier profesional bersama klub kecil FC Herzogenaurach pada 1978.

Di klub kampung halaman itu, pemain yang memiliki nama lengkap Lothar Herbert Matthäus itu langsung unjuk gigi dengan mencetak 22 gol dalam 28 penampilan—sebuah rekor luar biasa untuk remaja usia 17 tahun.

Langkah besarnya datang setahun kemudian saat bergabung dengan Borussia Mönchengladbach.

Dalam kurun lima musim (1979–1984), Matthäus menjelma jadi gelandang box-to-box dengan kemampuan komplet.

Pemain bertinggi badan 1,74 meter itu mencetak 51 gol dan menyumbang 8 assist dalam 200 pertandingan—catatan yang melambungkan namanya di Bundesliga.

Pada 1984, Bayern Munich tak ragu menebusnya. Hasilnya? Dominasi domestik. Matthäus mencetak 69 gol dan 16 assist dalam 152 laga periode pertamanya di Bavaria.

Pemain yang juga bisa berposisi sebagai libero itu menyabet tiga gelar Bundesliga beruntun dan satu DFB-Pokal.

Tahun 1988 menjadi titik awal Matthäus menaklukkan Italia. Bergabung dengan Inter Milan, ia langsung mengantarkan klub meraih Scudetto musim 1988/89 dan UEFA Cup 1990/91.

Dengan 53 gol dan 13 assist dalam 154 laga, Matthäus menjadi idola publik San Siro.

Bersama pelatih Giovanni Trapattoni dan rekan seperti Andreas Brehme serta Jürgen Klinsmann, Matthäus menjadikan Inter tim menakutkan di akhir 1980-an.

Usai petualangan di Serie A, Matthäus kembali ke Bayern pada 1992. Meski usianya tak lagi muda, ia tetap menjadi motor permainan.

Mantan pemain junior FC Herzogenaurach itu tampil dalam 258 laga, mencetak 31 gol, serta mengantarkan Die Roten meraih tiga trofi Bundesliga dan UEFA Cup 1995/96. Penampilannya makin dewasa—lebih matang, lebih elegan.

Rekam jejak Matthäus di Timnas Jerman sulit ditandingi. Ia tampil dalam 150 caps, mencetak 23 gol, dan menorehkan 17 assist.

Bersama Der Panzer, ia menjadi juara Piala Dunia 1990—di mana ia menjabat kapten dan tampil luar biasa sepanjang turnamen. Matthäus juga menjadi bagian skuad juara EURO 1980.

Tak main-main, Matthäus tercatat sebagai pemain dengan penampilan terbanyak di Piala Dunia (25 pertandingan dari lima edisi, 1982–1998), sebuah pencapaian yang menunjukkan konsistensi dan level permainan tertinggi selama dua dekade.

Kariernya ditutup di Amerika Serikat bersama MetroStars (2000–2001). Meski hanya tampil 21 kali, ia sempat membawa klubnya menjadi juara MLS Eastern Division.

Meski tak secemerlang masa jayanya, kehadirannya memberikan dampak besar bagi popularitas sepak bola di AS saat itu.

Lothar Matthäus bukan hanya legenda sepak bola Jerman. Ia adalah definisi pemimpin sejati, pekerja keras, dan otak permainan di era sebelum PlayStation.

Dalam daftar FIFA 100 dan Ballon d’Or 1990 yang diraihnya, dunia mengakui: Matthäus adalah maestro abadi lapangan tengah. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#Ballon D'or #lothar matthaus #Der Panzer #Bayern Munich #timnas jerman #serie A #pemain Bundesliga terbaik sepanjang masa #legenda jerman #sejarah Piala Dunia Jerman #FC Herzogenaurach #sepak bola jerman #Inter Milan #bundesliga