RADARTUBAN – Ancaman "kutukan medioker" kembali menghantui AC Milan.
Dalam laporan eksklusif yang dirilis platform statistik sepak bola Goallytics, Rossoneri hanya diprediksi finis di peringkat ke-6 Serie A musim 2025/2026.
Angka yang jauh dari ekspektasi fans yang mendambakan kembalinya masa kejayaan.
Lebih mengejutkan lagi, peluang Milan menjuarai liga hanya diberi 6,2%.
Bahkan, untuk sekadar masuk zona Liga Champions (top 4), kans mereka hanya 35,4% — kalah telak dari rival abadi seperti Inter Milan (79,3%), Atalanta (58,8%), dan Napoli (53,8%).
Data yang dirilis Goallytics menunjukkan dominasi Inter Milan di semua metrik probabilitas. Tim biru-hitam bahkan dinilai memiliki 36,5% peluang juara, hampir enam kali lipat dari Milan.
Sementara itu, Juventus (8,7%) dan AS Roma (8,0%) juga diprediksi lebih kuat dalam perebutan gelar maupun posisi empat besar.
Milan sendiri harus puas duduk di bawah mereka, bahkan terancam dikejar Lazio, Fiorentina, hingga Bologna.
"Prediksi ini jelas menjadi tamparan keras bagi manajemen Milan. Apalagi setelah investasi besar dan kedatangan Allegri di kursi pelatih," ujar analis taktik Italia, Riccardo Calafiori.
Dengan probabilitas hanya 56,6% untuk finish di zona top 6, ini menjadi tanda tanya besar.
Apakah Milan benar-benar kehilangan taji, atau sistem dan taktik baru Allegri belum bisa berjalan mulus?
Padahal, musim panas ini Milan aktif di bursa transfer dan mempromosikan perubahan besar, termasuk kabar kembalinya Adriano Galliani ke dalam struktur klub sebagai Head of Football.
Tapi jika performa tidak naik, semua langkah itu bisa berujung antiklimaks.
Satu hal yang menarik: Bologna (19,2%), Fiorentina (25,5%), bahkan Lazio (26,9%) diprediksi punya kans cukup besar untuk menyusup ke papan atas.
Bukan tidak mungkin Milan tersalip jika tak segera tancap gas sejak awal musim.
Sementara di zona degradasi, Pisa (47,8%), Cremonese (41,9%), dan Lecce (35,6%) disebut sebagai kandidat terkuat untuk turun kasta.
Prediksi tinggal prediksi. Tapi angka dari Goallytics bukan datang dari perasaan — ini hasil dari simulasi berbasis data performa, kekuatan skuad, statistik individu, hingga rekam jejak taktik pelatih.
“Musim ini bukan soal sejarah atau nama besar. Milan harus membuktikan di lapangan kalau mereka pantas kembali ke puncak,” ungkap komentator Sky Italia, Fabrizio Massimo.
Milan kini berdiri di persimpangan: bangkit menantang prediksi atau makin terpuruk dalam bayang-bayang era kejayaan masa lalu.
Dengan peluang juara yang mini dan tekanan dari rival yang kian siap tempur, satu hal pasti — musim ini bukan ruang toleransi lagi bagi Rossoneri. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni