RADARTUBAN - Kedatangan Luka Modrić di AC Milan menjadi sorotan tajam menjelang musim baru Serie A.
Pemain berusia 39 tahun ini resmi meninggalkan Real Madrid setelah 13 tahun penuh kejayaan, membawa 28 trofi bersama Los Blancos.
Namun di balik rasa antusias, Modrić tidak menutup-nutupi kekecewaannya atas kegagalan Milan lolos ke kompetisi Eropa musim 2025–26.
Musim lalu menjadi periode penuh tantangan bagi Milan. Mereka hanya finis di peringkat kedelapan Serie A, yang secara otomatis membuat mereka absen dari kompetisi Eropa untuk pertama kalinya sejak 2014–15.
Meski demikian, Luka Modrić di AC Milan tetap memandang klub barunya sebagai tim besar yang layak disejajarkan dengan Real Madrid.
“Milan berada di level seperti Real Madrid? Tentu saja,” ujar Modrić kepada media.
“Saat pertama kali saya tiba di sini, saya langsung bisa merasakan betapa besarnya klub ini. Organisasinya luar biasa—orang-orangnya, para penggemarnya, stadionnya.”
Sebagai klub dengan tujuh gelar Liga Champions, Milan hanya kalah dari Real Madrid yang kini mengoleksi lebih banyak trofi.
Modrić menilai warisan ini masih terasa kuat di lingkungan klub. Ia juga menyebut bahwa nuansa klub besar sangat terasa sejak hari pertama ia bergabung.
“Semuanya benar-benar kelas atas. Kamu bisa merasakan kebesaran klub ini, seperti halnya klub-klub besar lainnya. Tujuh gelar juara Eropa, hanya kalah dari Real Madrid. Itu sudah cukup menjelaskan semuanya,” lanjutnya.
Salah satu faktor yang turut memengaruhi keputusan Luka Modrić di AC Milan adalah hubungan eratnya dengan Carlo Ancelotti, pelatih yang pernah membawa Milan juara Eropa dua kali, dan juga membimbing Modrić meraih tiga gelar Liga Champions di Madrid.
“Ancelotti? Kami sempat berbincang, dan dia mengatakan banyak hal baik tentang Milan,” kata Modrić. “Dia pernah di sini sebagai pemain dan pelatih, dan dia menceritakan segalanya tentang klub ini.”
Meski tidak bermain di Eropa musim ini, Modrić melihat ada sisi positif dari padatnya waktu persiapan untuk setiap laga domestik.
“Sayang sekali Milan tidak bermain di Eropa, padahal mereka adalah klub dengan gelar terbanyak setelah Real Madrid. Namun kami hanya bermain satu laga per pekan. Mungkin itu bukan hal buruk karena kami bisa punya waktu sepekan penuh untuk mempersiapkan pertandingan.”
Modrić menegaskan bahwa meski masa emas Milan telah berlalu, klub ini masih memiliki DNA juara.
Ia siap memberikan kontribusi maksimal agar Milan kembali bersaing di level tertinggi.
“Saya menghabiskan 13 tahun di klub terbesar di dunia, dan sekarang saya berada di klub yang dulunya seperti Real Madrid saat ini,” pungkas Modrić. (*)
“Namun Milan sempat kehilangan arah. Mereka harus berusaha kembali ke level itu. Tugas saya adalah membantu sebisa mungkin musim ini dan menikmatinya.”
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni