Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

UEFA Larang 10 Klub Tampil di Liga Europa Karena Pelanggaran Serius

Bihan Mokodompit • Jumat, 8 Agustus 2025 | 15:02 WIB
Ilustrasi UEFA resmi menjatuhi hukuman kepada 10 klub.
Ilustrasi UEFA resmi menjatuhi hukuman kepada 10 klub.

RADARTUBAN - UEFA larang 10 klub tampil di Liga Europa karena berbagai pelanggaran berat yang dilakukan klub-klub tersebut sepanjang sejarah kompetisi.

Mulai dari pengaturan skor, pelanggaran keuangan, hingga konflik kepemilikan, berbagai kasus ini menjadi catatan penting dalam sejarah turnamen kasta kedua Eropa ini.

Sejarah Larangan UEFA di Liga Europa

Liga Europa, yang sebelumnya dikenal sebagai Piala UEFA sejak 1971 dan resmi berganti nama pada 2009, merupakan kompetisi kontinental elit yang menghadirkan klub-klub terbaik dari 55 konfederasi nasional di Eropa.

Meskipun aturan keikutsertaan cukup terbuka, UEFA tetap memiliki wewenang untuk menjatuhkan sanksi keras kepada klub yang melanggar regulasi mereka.

Dalam kasus terbaru, Crystal Palace harus turun ke Liga Konferensi karena pelanggaran aturan multi-klub ownership.

Meskipun mereka sudah masuk dalam undian Liga Konferensi, Palace masih punya peluang untuk kembali ke Liga Europa jika banding mereka terhadap UEFA dikabulkan.

Jika hal itu terjadi, Palace bisa saja menggantikan Nottingham Forest secara langsung.

Daftar Klub yang Pernah Dilarang Berlaga di Liga Europa

Beberapa klub besar pernah merasakan pahitnya sanksi UEFA. Pada tahun 2019, AC Milan dijatuhi hukuman larangan tampil karena melanggar aturan Financial Fair Play (FFP).

Meski saat itu mereka finis di posisi kelima Serie A dan berhak tampil di Liga Europa, larangan UEFA tetap diberlakukan.

Kasus paling berat menimpa klub Albania, Skenderbeu, yang pada 2018 dijatuhi larangan 10 tahun dari seluruh kompetisi UEFA karena pengaturan skor dalam empat pertandingan berbeda.

Laporan Associated Press menyebutkan bahwa UEFA telah menemukan bukti cukup kuat dari hasil investigasi mendalam mereka.

Tidak kalah menarik, FC Dnipro dari Ukraina juga pernah dilarang tampil di Liga Europa selama tiga tahun sejak 2016 karena pelanggaran keuangan.

Klub ini sebenarnya finalis Liga Europa 2015, namun akhirnya dibubarkan pada 2019 akibat utang yang tak terbayar. Penerusnya, SC-Dnipro, juga mundur dari sepak bola profesional pada 2024.

Klub Lain yang Turut Dijatuhi Sanksi

Pada tahun yang sama, klub Azerbaijan, Inter Baku, dijatuhi hukuman larangan tiga tahun yang bersifat aktif jika mereka lolos ke kompetisi Eropa dalam periode tersebut.

Sanksi itu efektif membuat mereka absen dari Liga Europa 2016/17.

Musim 2012 dan 2013 juga menjadi tahun sibuk bagi UEFA. Klub asal Turki, Fenerbahce, dilarang tampil selama dua tahun akibat pengaturan skor, sedangkan Besiktas dijatuhi hukuman satu tahun karena pelanggaran serupa.

Menariknya, Besiktas saat itu sudah bermain di babak play-off sebelum UEFA menjatuhkan sanksi.

Masalah Lisensi, Utang, dan Transfer Ilegal

UEFA juga menolak memberikan lisensi kepada Rangers pada 2012 meski mereka finis di posisi kedua Liga Utama Skotlandia.

Klub tersebut tengah berada dalam administrasi dan gagal menyerahkan laporan keuangan 2011.

Rangers kemudian mengalami likuidasi dan terdegradasi ke Divisi Tiga Skotlandia.

Kasus lain datang dari Malaga, klub La Liga yang finis di peringkat keenam musim 2012/13, namun dijatuhi larangan tampil selama dua tahun karena utang yang belum dibayar.

Hukuman itu kemudian dikurangi menjadi satu musim.

Terakhir, pada musim 2011/12, klub Swiss FC Sion dikeluarkan dari Liga Europa karena menurunkan pemain tidak sah yang mereka rekrut saat klub tengah menjalani larangan transfer dari FIFA.

Sanksi UEFA dan Pelajaran Bagi Klub Eropa

Dengan total UEFA larang 10 klub tampil di Liga Europa, badan sepak bola tertinggi Eropa ini menegaskan komitmennya dalam menjaga integritas kompetisi. Pelanggaran seperti match-fixing, pelanggaran FFP, dan administrasi yang buruk jelas tidak ditoleransi.

Meskipun banyak dari kasus ini menimbulkan kontroversi dan proses banding, UEFA tetap berpegang pada prinsip transparansi dan keadilan.

Kasus-kasus ini menjadi pelajaran penting bagi seluruh klub Eropa agar selalu menjaga kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku. (*)

 

Editor : Yudha Satria Aditama
#Nottingham Forest #crystal palace #Liga Europa #pelanggaran #UEFA #Banned #club #albania