Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Musim Ajaib George Weah 1994/1995: Dari Paris ke Milan, Lintasi Batas Afrika-Eropa

Tulus Widodo • Minggu, 10 Agustus 2025 | 00:35 WIB
George Weah Raja Sepak Bola Dunia dan Ballon d’Or Pertama Afrika
George Weah Raja Sepak Bola Dunia dan Ballon d’Or Pertama Afrika

RADARTUBAN - Musim 1994/1995 menjadi titik balik dalam karier George Weah. Penyerang asal Liberia itu mengubah statusnya dari bintang Ligue 1 Prancis menjadi ikon sepak bola dunia.

Kehebatannya pada musim itu bukan hanya soal gol, tapi juga soal bagaimana ia memadukan teknik, kecepatan, dan ketajaman untuk mengubah jalannya pertandingan di level tertinggi Eropa.

Paruh pertama musim, Weah masih berseragam Paris Saint-Germain (PSG). Di bawah asuhan Luis Fernandez, ia menjadi ujung tombak mematikan dalam formasi menyerang PSG.

Ligue 1: Weah mencetak gol-gol penting yang menjaga PSG tetap bersaing di papan atas.

Liga Champions: Inilah panggung yang benar-benar menempatkannya di radar global.

Weah mengakhiri Liga Champions 1994/1995 sebagai top scorer dengan 7 gol, termasuk gol spektakuler ke gawang Bayern Munich dan Spartak Moscow.

Permainannya memadukan dribel kilat, kontrol bola rapat, dan ketenangan di depan gawang.

Lawan-lawan di Eropa mulai merasakan betapa berbahayanya pemain Afrika ini.

Di musim panas 1995, Silvio Berlusconi dan AC Milan bergerak cepat. Dengan reputasi sebagai salah satu klub paling prestisius di dunia, Milan menggaet Weah untuk memperkuat lini depan Rossoneri yang sudah bertabur bintang.

Kepindahan ini menandai babak baru. Weah bukan hanya pemain Afrika pertama yang benar-benar menjadi andalan di klub Eropa papan atas, tapi juga simbol bahwa sepak bola tak mengenal batas benua.

Serie A pada pertengahan 90-an dikenal sebagai liga paling sulit di dunia. Pertahanan rapat, taktik kompleks, dan bek-bek legendaris seperti Paolo Maldini, Franco Baresi (rekannya di Milan), dan Ciro Ferrara membuat mencetak gol menjadi misi berat.

Namun Weah membuktikan diri saat debut impresif melawan Sampdoria.
Weah juga mencetak gol solo fenomenal melawan Verona, di mana ia menggiring bola dari kotak penalti sendiri melewati lima pemain sebelum mencetak gol.

Dia juga menjadi tulang punggung serangan Milan yang akhirnya merebut Scudetto Serie A 1995/1996.

Yang membuat musim 1994/1995 begitu spesial adalah kombinasi prestasi di dua klub berbeda dan di dua kompetisi utama:

1. Top scorer Liga Champions bersama PSG.

2. Scudetto bersama Milan pada musim berikutnya.

3. Ballon d’Or 1995, menjadi pemain Afrika pertama dan satu-satunya hingga kini yang meraih penghargaan tersebut.

Musim itu menjadi pembuktian bahwa seorang pemain dari Afrika bisa mendominasi panggung Eropa.

Pemain yang memiliki nama lengkap George Manneh Oppong Ousman Weah itu tidak hanya mengangkat trofi, tapi juga membuka pintu bagi generasi penerus seperti Didier Drogba, Samuel Eto’o, dan Mohamed Salah.

Bahkan setelah pensiun dan terpilih menjadi Presiden Liberia pada 2018, kisah musim 1994/1995 tetap menjadi bab yang sering diulang di dunia sepak bola—sebuah musim di mana seorang anak muda dari Monrovia menaklukkan Paris, Milan, dan hati pecinta sepak bola di seluruh dunia. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#george weah #Presiden Liberia #Ballon D'or #Muhamed Salah #AC Milan #top scorer liga champions #serie A #PSG #silvio berlusconi #scudetto