RADARTUBAN – Dean Henderson kembali mencuri perhatian publik sepak bola dunia, bukan hanya karena membawa Crystal Palace meraih trofi Community Shield 2025 usai menumbangkan Liverpool 3-2, tetapi juga karena gaya ikoniknya di bawah mistar: memakai topi saat bertanding.
Dalam laga sengit di Wembley itu, Henderson tampil bak tembok kokoh. Tiga kali dia melakukan save mahal yang membuat para penyerang Liverpool frustrasi.
Kemenangan ini menjadi momen spesial, karena sekaligus menghadirkan trofi pertama sepanjang karier profesionalnya.
Penggunaan topi oleh kiper bukan hal baru. Jauh sebelum Henderson, dunia sepak bola mengenal Lev Yashin, legenda Uni Soviet (kini Rusia) yang dijuluki Black Spider karena refleks dan kecepatannya dalam menghalau bola.
Yashin bukan hanya simbol ketangguhan, tetapi juga pionir gaya kiper dengan topi untuk mengatasi sinar matahari yang menyilaukan mata.
Memasuki era 90-an hingga 2000-an awal, sejumlah nama besar juga tampil dengan gaya ini:
- Oliver Kahn (Jerman) – Sang singa di bawah mistar.
- German Burgos (Argentina) – Karisma dan agresivitasnya melegenda.
- Evgeni Khmaruk (Persija) – Ikon Liga Indonesia di eranya.
- Jens Lehmann (Arsenal) – Keberanian dan provokasinya di lapangan tak terlupakan.
- Genzo Wakabayashi (Nankatsu) & Ken Wakashimazu (Meiwa FC) – Karakter ikonik di dunia anime yang menginspirasi jutaan anak pecinta sepak bola.
Meski terlihat sebagai ciri khas, topi kiper punya fungsi krusial. Saat cuaca terik, pantulan sinar matahari bisa mengganggu pandangan, terutama saat membaca arah bola tinggi.
Dengan topi, kiper bisa mengantisipasi bola lebih cepat dan akurat.
Tak heran, FIFA pun merekomendasikan penggunaannya untuk faktor keamanan dan kenyamanan di lapangan.
Kini, lewat penampilannya yang gemilang di Community Shield, Dean Henderson bukan hanya membawa Crystal Palace meraih gelar, tapi juga menghidupkan kembali warisan gaya legendaris yang pernah memukau dunia. (*)
Editor : Amin Fauzie