RADARTUBAN – Demam Timnas Indonesia kembali menggelegar. Jelang FIFA Matchday September 2025, PSSI resmi merilis tiket pertandingan Indonesia vs Kuwait (5 September) dan Indonesia vs Lebanon (8 September) yang akan digelar di Stadion Gelora Bung Tomo (GBT), Surabaya.
Euforia suporter Garuda dipastikan meledak. Pasalnya, laga ini bukan sekadar uji coba, melainkan ajang pemanasan skuad besutan Patrick Kluivert sebelum berlaga di round keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia.
Berdasarkan rilis resmi, harga tiket dibanderol berbeda untuk dua laga:
Indonesia vs Kuwait (5 September 2025)
Tribun VVIP: Rp 250.000
Tribun VIP Barat: Rp 200.000
Tribun VIP Timur: Rp 200.000
Tribun Utara: Rp 125.000
Tribun Selatan: Rp 125.000
Tribun Atas/Upper: Rp 75.000
Indonesia vs Lebanon (8 September 2025)
Tribun VVIP: Rp 400.000
Tribun VIP Barat: Rp 300.000
Tribun VIP Timur: Rp 300.000
Tribun Utara: Rp 150.000
Tribun Selatan: Rp 150.000
Tribun Atas/Upper: Rp 100.000
Kenaikan harga di laga melawan Lebanon tak lepas dari status lawan yang lebih tangguh, sekaligus antusiasme tinggi publik yang diprediksi memadati stadion berkapasitas 46 ribu penonton tersebut.
Para suporter bisa membeli tiket secara online melalui aplikasi Livin’ by Mandiri dan laman resmi pssi.org.
Namun, untuk mengakses pembelian, penonton wajib memiliki akun Garuda.id.
Dengan sistem ini, PSSI berharap animo besar suporter bisa tertata rapi sekaligus meminimalisir praktik calo yang kerap merugikan penonton.
Tak bisa dipungkiri, atmosfer di Surabaya dipastikan membara. Gelora Bung Tomo dikenal sebagai “kandang angker” Timnas, di mana dukungan Bonek dan suporter Garuda lainnya kerap jadi tenaga tambahan bagi skuad Merah Putih.
Melihat tren sebelumnya, tiket laga Timnas Indonesia hampir selalu ludes dalam waktu singkat.
Banyak pihak memprediksi tiket kali ini bisa habis hanya dalam hitungan jam sejak pembukaan penjualan.
Suporter pun diimbau untuk segera bersiap agar tidak kehilangan kesempatan menyaksikan langsung aksi Rizky Ridho dkk dari bangku stadion. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni