RADARTUBAN – Kabar buruk datang dari Arema FC. Bintang muda mereka, Achmad Maulana Syarif, dipastikan harus menepi panjang setelah divonis mengalami cedera Anterior Cruciate Ligament (ACL).
Eks gelandang Persija Jakarta itu praktis mengakhiri musim lebih cepat di kompetisi BRI Super League 2025/2026.
Kepastian tersebut disampaikan langsung oleh dokter tim Arema FC, dr. Nanang Tri Wahyudi SpKO. Hasil pemeriksaan MRI mengonfirmasi bahwa Maulana—akrab disapa Maul—mengalami robekan ligamen lutut yang serius.
“Hasil MRI menunjukkan ada cedera ACL. Salah satunya akibat salah tumpuan setelah mendapat pelanggaran. Saat itu, lututnya tertekuk,” ungkap dr. Nanang, dilansir dari Radar Malang, Rabu (27/8).
Untuk memulihkan cederanya, Maul dipastikan harus naik meja operasi. Proses ini akan diikuti dengan masa rehabilitasi panjang yang biasanya memakan waktu minimal 6 hingga 9 bulan.
Artinya, sang gelandang 27 tahun hampir pasti tak bisa membela Singo Edan hingga kompetisi berakhir.
Cedera ACL dikenal sebagai mimpi buruk bagi pesepak bola. Banyak pemain dunia kehilangan performa bahkan karier karena cedera serupa.
Namun, peluang untuk comeback tetap terbuka lebar jika pemulihan dilakukan dengan disiplin.
Kehilangan Maul jelas menjadi kerugian besar bagi tim asuhan Marcos Santos. Sejak didatangkan dari Persija, Maul dikenal sebagai motor penggerak lini tengah Arema berkat visi bermain dan distribusi bolanya.
Aremania pun langsung membanjiri media sosial dengan doa agar Maul segera pulih. Tagar #GetWellSoonMaul sempat menggema di jagat maya usai kabar cederanya diumumkan.
Pakar kesehatan olahraga menilai cedera ACL bukan hanya soal fisik, tapi juga mental.
Pemain dituntut kuat menghadapi masa pemulihan panjang dan tak jarang mengalami ketakutan ketika kembali ke lapangan.
“Dukungan tim, keluarga, dan fans sangat penting. Mental pemain harus dijaga agar tidak drop,” tambah dr. Nanang.
Kini, publik sepak bola Indonesia hanya bisa berharap Maul mampu bangkit dan kembali menunjukkan performa terbaiknya bersama Arema FC musim depan. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni