RADARTUBAN – Nama Alessandro Nesta identik dengan bek tangguh yang disegani di Eropa.
Nesta menghabiskan lebih dari dua dekade kariernya di level tertinggi bersama Lazio, AC Milan, hingga timnas Italia yang berhasil merebut Piala Dunia 2006.
Namun siapa sangka, sosok yang dikenal sebagai salah satu bek terbaik dunia itu justru pernah mengakui mentalnya hancur oleh satu pemain: Lionel Messi.
Nesta memulai karier profesional bersama Lazio pada 1993. Hampir satu dekade ia menjadi palang pintu kokoh di ibu kota Italia dan mempersembahkan gelar Serie A 1999/2000, dua Coppa Italia, hingga Cup Winners’ Cup.
Pada periode 2000–2002, pemain kelahiran 1976 itu bahkan dinobatkan sebagai bek terbaik Serie A tiga musim beruntun.
Masalah finansial Lazio kemudian memaksa mereka melepas Nesta ke AC Milan pada 2002.
Di San Siro, Nesta mencapai masa keemasan bersama Paolo Maldini, Jaap Stam, dan Cafu.
Pemain yang identik dengan nomor punggung 13 itu langsung mengangkat trofi Liga Champions di musim debut, lalu menambah deretan gelar domestik dan Eropa bersama Rossoneri.
Nesta juga bagian dari skuad legendaris Italia yang menjuarai Piala Dunia 2006 di Jerman.
Setelah meninggalkan Milan, Nesta sempat merumput di Montreal Impact dan Chennaiyin FC sebelum gantung sepatu pada 2014 dan beralih ke kursi pelatih.
Meski sarat pengalaman menghadapi deretan striker kelas dunia, ada satu nama yang benar-benar membuat Nesta tak berdaya: Lionel Messi.
Dalam wawancara dengan Calciatori Brutti via Goal pada 2021, Nesta mengenang duel AC Milan vs Barcelona di ajang Liga Champions 2011/12 yang menjadi musim terakhirnya bersama Rossoneri.
Kala itu, Messi sedang dalam performa luar biasa. Tahun 2012, La Pulga mencetak 91 gol dalam semusim di bawah arahan Pep Guardiola.
Menghadapi Barcelona yang disebut sebagai tim terbaik dunia, Nesta yang sudah berusia 37 tahun harus berjibaku di lini belakang Milan.
“Pada menit ke-10, saya menendang Messi dan jatuh ke tanah kelelahan. Saya sampai melihat bintang-bintang. Lalu dia datang menawarkan tangannya untuk membantu saya bangun. Saat itu mental saya benar-benar hancur. Bayangkan, saya di tanah, dan ketika membuka mata, wajah Messi sudah ada di depan saya dengan tangan terulur. Itu momen yang membuat saya sadar segalanya berubah,” ujar Nesta blak-blakan.
Momen itu menjadi titik balik. Nesta mulai merasa waktunya di Eropa sudah habis, sebelum akhirnya hijrah ke MLS bersama Montreal Impact tak lama kemudian.
Meski Barcelona gagal menjuarai Liga Champions musim tersebut—karena trofi akhirnya jatuh ke Chelsea setelah mengalahkan Bayern Munchen di final—penampilan Messi tetap meninggalkan luka dalam bagi Nesta.
Pengakuan dari salah satu bek paling elegan di dunia ini justru mempertegas dominasi Messi pada dekade awal 2010-an.
Jika pemain sekelas Nesta saja bisa dibuat menyerah secara mental, tidak heran La Pulga kemudian mengoleksi 8 Ballon d’Or sepanjang kariernya.
Bagi Nesta, kenangan pahit itu mungkin menjadi noda kecil di akhir perjalanan emasnya.
Namun bagi publik sepak bola, cerita ini hanya semakin menegaskan betapa luar biasanya Messi di lapangan. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni