RADARTUBAN – Nama Hokky Caraka kerap jadi perbincangan panas di kalangan suporter Timnas Indonesia.
Alih-alih dipuja sebagai tumpuan lini depan Garuda Muda, striker anyar Persita Tangerang itu justru sering diberi label miring: “jadi beban.” Julukan itu lahir bukan tanpa alasan.
Sebagai penyerang murni, publik menaruh ekspektasi tinggi: gol demi gol.
Namun, Hokky belum mampu menjawab kepercayaan itu dengan konsistensi.
Beberapa kali mantan pemain PSS Sleman itu diberi menit bermain di laga penting Timnas Indonesia U-23, tetapi kontribusi golnya tipis.
Situasi kian runyam ketika beberapa peluang emas terbuang percuma.
Termasuk saat Indonesia membantai Makau 5-0 dalam kualifikasi Piala Asia U-23 di Stadion Gelora Delta Sidoarjo, Sabtu (6/9) malam.
Bagi suporter yang lapar kemenangan, kesabaran pun habis.
Selain soal produktivitas, gaya bermain Hokky juga jadi sorotan.
Pemain kelahiran 2004 itu mengandalkan fisik dan ketepatan posisi (positioning), tetapi pergerakannya kerap terbaca bek lawan.
Dalam pola serangan cepat, Hokky dianggap kurang tajam dalam link-up play dengan gelandang dan winger.
Hasilnya, aliran serangan Timnas kerap tersendat saat bola sampai di kakinya.
Namun, menyematkan label “beban” sejatinya bisa berlebihan. Hokky masih muda, masih dalam tahap pembentukan karakter sebagai striker.
Sejarah mencatat, banyak bomber besar dunia yang pada awal karier juga dihujani kritik serupa sebelum akhirnya matang.
Pertanyaannya: apakah publik mau bersabar menunggu proses itu, atau terus mendesak Timnas mencari opsi lain di lini depan?
PR untuk Pelatih dan Pemain
Beban besar kini tak hanya di pundak Hokky, tapi juga di tim pelatih.
Bagaimana memoles potensi Hokky agar tak sekadar jadi target kritik, melainkan benar-benar finisher yang ditakuti lawan.
Bagaimanapun, striker adalah posisi yang paling mudah dihakimi: tak cetak gol, berarti gagal. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama