Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Duel Striker Muda Timnas: Hokky Mandek, Sananta Stabil, Jens Raven Meledak

Tulus Widodo • Minggu, 7 September 2025 | 21:27 WIB
Striker muda Hokky Caraka dianggap gagal memenuhi ekspektasi gol.
Striker muda Hokky Caraka dianggap gagal memenuhi ekspektasi gol.

RADARTUBAN – Satu posisi yang paling mudah dipuji sekaligus paling gampang dicaci di sepak bola adalah striker.

Mereka dituntut mencetak gol, titik. Tak heran, publik Timnas Indonesia belakangan ramai memberi label “beban” kepada Hokky Caraka.

Tapi benarkah ia memang seburuk itu? Jika dibandingkan dengan Ramadhan Sananta dan Jens Raven, siapa sebenarnya mesin gol paling tajam Garuda Muda?

Statistik Trio Garuda Muda

Hokky Caraka tercatat tampil dalam 5 laga di ajang ASEAN U-23 tanpa mencetak gol maupun assist.

Di Liga 1 musim 2024/2025, dia sudah bermain sebanyak 27 kali dengan torehan 3 gol dan 1 assist.

Secara keseluruhan, sepanjang kariernya Hokky sudah mengoleksi 70 penampilan dengan 7 gol dan 3 assist.

Sementara itu, Ramadhan Sananta hanya turun dalam 2 laga di AFC U-23 tanpa mencetak gol maupun assist.

Namun, kiprahnya lebih menonjol di level timnas senior. Ia sudah bermain dalam 8 laga kualifikasi Piala Dunia dan berhasil menyumbang 4 gol.

Adapun Jens Raven tampil impresif bersama U-23. Dari 7 laga, ia mencatat 7 gol tanpa assist.

Debutnya bahkan begitu mencolok dengan mencetak 6 gol dalam kemenangan 8-0 melawan Brunei, sekaligus menjadikannya top skor turnamen.

Hokky Caraka

Dipatok sebagai ujung tombak alami, namun catatan di Liga 1 musim 2024/2025 menunjukkan hanya 3 gol dan 1 assist dalam 27 pertandingan.

Di level U-23, nihil gol setelah lima penampilan menambah alasan kritik. Publik menilai, seorang striker yang tak mencetak gol sulit dielu-elukan.

Ramadhan Sananta

Meski sepi di level U-23 (0 gol), kontribusinya di Timnas senior cukup solid: 4 gol dari 8 laga kualifikasi Piala Dunia.

Termasuk menyumbang satu gol saat FIFA Matchday menghadapi China Taipei di Stadion Gelora Bung Tomo Surabaya, Jumat (5/9) malam lalu.

Sananta tampil lebih matang, terbukti sanggup memberi pembeda di laga kompetitif yang tekanan dan atmosfernya jauh lebih tinggi.

Jens Raven

Sensasi baru yang langsung mencuri panggung. 7 gol dari 7 caps U-23, termasuk rekor 6 gol dalam satu laga kontra Brunei, membuatnya bak mesin pencetak gol otomatis.

Statistik hampir sempurna ini jadi bukti bahwa Raven bukan sekadar hype media, melainkan striker dengan insting predator sejati.

So, label “beban” untuk Hokky memang ada dasarnya: kontribusi gol minim, produktivitas seret, dan gaya main yang kerap terbaca lawan.

Bandingkan dengan Jens Raven yang langsung tampil buas, atau Sananta yang relatif stabil di level senior, Hokky memang masih tertinggal satu langkah.

Namun, striker anyar Persita Tangerang iti juga masih muda. Alih-alih sekadar menghakimi, yang dibutuhkan adalah pembinaan taktik, peran yang jelas, dan dukungan kerja sama tim. Tanpa itu, striker muda akan terus “mati gaya” di lapangan.

Dengan kondisi seperti ini, pelatih Timnas U-23 Gerald Vanenburg harus bisa memaksimalkan momentum Jens Raven sebagai mesin gol utama.

Dan, berikan Hokky peran berbeda agar ia tak sekadar jadi “target kritik” setiap kali gagal cetak gol.

Kritik keras boleh saja, tapi data membuktikan: penilaian striker bukan cuma soal angka di papan skor. Ini tentang proses, peran, dan bagaimana setiap pemain ditempa menghadapi tuntutan berat: mencetak gol demi Garuda. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#Jens Raven #Sananta #Garuda Muda #Hokky Caraka #timnas indonesia