RADARTUBAN - Jude Bellingham kini menjadi salah satu pemain paling berpengaruh dalam sepak bola Eropa.
Namun, di balik performa gemilangnya, muncul perdebatan soal sikap dan temperamennya di lapangan.
Hal ini semakin penting dibicarakan karena Timnas Inggris sangat bergantung pada kontribusinya dalam setiap turnamen besar.
Sejak mencetak gol pembuka di Piala Dunia 2022 melawan Iran, Bellingham langsung dipandang sebagai masa depan Timnas Inggris. Declan Rice bahkan pernah menyemangatinya di lorong stadion dengan berkata,
“Ini panggungmu, keluarlah dan tunjukkan kemampuanmu. Aku akan ada di belakangmu untuk mengawal dan memberikan bola agar kamu bisa melakukan apa yang kamu mau.”
Absennya Bellingham dalam laga terakhir melawan Andorra akibat cedera bahu terbukti berdampak besar. Inggris kehilangan agresivitas serta kreativitasnya.
Padahal, pemain Real Madrid itu dikenal memiliki keunggulan teknis, kekuatan fisik, serta insting mencetak gol yang mengingatkan pada sosok Michael Ballack dan Zinedine Zidane.
Aksi akrobatiknya saat mencetak gol salto melawan Slovakia di Euro 2024 menjadi bukti kualitas kelas dunia yang ia miliki.
Meski kualitasnya tak diragukan, pertanyaan tentang sikapnya makin sering muncul.
Setelah 25 penampilan pertama tanpa kartu, kini Bellingham sudah mengoleksi tujuh kartu kuning sejak berseragam Real Madrid. Dua di antaranya akibat protes keras kepada wasit.
Pelatih Timnas Inggris, Thomas Tuchel, menegaskan, “Energi Jude harus diarahkan ke lawan, ke tujuan kita, dan bukan untuk mengintimidasi rekan setim atau bersikap terlalu agresif kepada rekan setim maupun wasit.”
Namun, pandangan berbeda datang dari sahabatnya, Morgan Rogers. Ia menyebut,
“Saya tidak merasa dia mengintimidasi kami. Itu hanya tekadnya untuk menang, hatinya, betapa besar artinya bagi dia, baik sebagai pemain maupun pribadi. Dia hanya ingin menang dan tampil baik setiap saat. Dan ketika hal itu tidak terjadi, mungkin kekecewaannya terlihat lebih jelas dibandingkan yang lain. Tapi saya rasa itu bukan masalah. Dia seorang pemimpin dan menjadi teladan bagi kami.”
Meski sudah mengoleksi lima trofi besar, tampil di tiga turnamen internasional, serta mencatat lebih dari 40 caps bersama Timnas Inggris, usia Bellingham baru 22 tahun.
Bandingkan dengan Wayne Rooney yang di usia sama sudah dua kali diskors karena kartu merah. Banyak pihak yakin Bellingham juga akan belajar dan berkembang lebih matang.
Hubungannya dengan media Inggris pun sempat tegang, terutama setelah kesalahpahaman terkait komentar Tuchel yang menyinggung keluarganya.
Namun, kondisi ini tidak mengurangi fakta bahwa Bellingham adalah salah satu pemain terbaik dunia saat ini.
Bagi publik sepak bola, Jude Bellingham adalah simbol generasi baru yang penuh bakat dan determinasi.
Perdebatan soal temperamennya memang nyata, tetapi tanpa dirinya, kekuatan Timnas Inggris jelas berkurang.
Dengan pengalaman bersama Real Madrid serta kiprah gemilang di Euro 2024, Bellingham diprediksi akan terus berkembang menjadi pemimpin sejati di lapangan hijau.(*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni