Jurnalis ternama Fabrizio Romano dalam unggahan di akun X resminya menuliskan, pelatih Xabi Alonso tak sekadar memasang Mbappé di lini depan.
Kehadirannya membuat Madrid lebih fleksibel: formasi 4-3-3 klasik bergeser menjadi 4-3-1-2 atau bahkan 4-4-2 diamond, dengan Mbappé bebas bergerak mencari ruang.
Efeknya? Madrid jadi lebih eksplosif dalam transisi, memanfaatkan kecepatan Mbappé untuk memecah garis pertahanan lawan.
Bandingkan dengan rivalnya: Robert Lewandowski (19 gol musim lalu) bermain sebagai target man yang lebih statis di Barcelona. Antoine Griezmann (16 gol) mengandalkan kreativitas, bukan sekadar insting gol.
Mbappé memadukan keduanya — klinis di kotak penalti sekaligus aktif membangun serangan dari sayap.
Secara statistik, Mbappé mencetak gol rata-rata 0,92 per laga, jauh di atas rerata striker La Liga lainnya.
Lebih dari 40 persen golnya datang dari situasi transisi cepat, sebuah angka yang mencerminkan gaya main baru Madrid: pressing tinggi, serangan balik kilat, penyelesaian brutal.
Ketergantungan Madrid pada Mbappe Ibarat Pisau Bermata Dua
Namun, dominasi Mbappé juga membawa B5425091498919konsekuensi.
Ketergantungan Madrid pada ketajamannya bisa menjadi masalah jika pemain Prancis itu cedera atau mengalami penurunan performa.
Rival seperti Barcelona akan berusaha menutup ruang dengan blok rendah, memaksa Madrid mencari solusi lain.
Bagi Madridista, ini bukan sekadar soal top skor. Ini tentang melihat tim kesayangan mereka berevolusi — lebih cepat, lebih agresif, lebih modern — dengan Mbappé sebagai pusat gravitasi.
Musim ini bisa menjadi musim yang menentukan: apakah “Era Mbappé” akan mengantar Madrid kembali mendominasi Eropa seperti era Cristiano Ronaldo, atau justru membuka babak baru persaingan La Liga yang lebih ketat? (*)