Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Ballon d'Or Diguncang Kontroversi: Perwakilan Argentina Dicoret Karena Kehilangan Objektivitas

Bihan Mokodompit • Selasa, 23 September 2025 | 15:00 WIB
Ilustrasi: perwakilan Argentina kehilangan hak suaranya di Ballon d
Ilustrasi: perwakilan Argentina kehilangan hak suaranya di Ballon d

RADARTUBAN - Ballon d'Or kembali menjadi sorotan dunia sepak bola.

Seorang mantan perwakilan Argentina terpaksa kehilangan hak suaranya dalam panel pemilihan setelah dinilai tidak objektif.

Kasus ini muncul usai ia menempatkan empat pemain asal negaranya, termasuk Lionel Messi, ke dalam daftar lima besar pilihannya pada edisi 2023.

Aturan Pemilihan Ballon d'Or

Sebagai informasi, Ballon d'Or merupakan penghargaan bergengsi yang diputuskan melalui pemungutan suara oleh jurnalis spesialis dari berbagai negara.

Setiap perwakilan memilih sepuluh pemain dari daftar 30 nama kandidat.

Pemilihan dilakukan dengan sistem poin, di mana pemain di peringkat pertama mendapat 15 poin, sedangkan peringkat kesepuluh mendapat 1 poin.

Kriteria yang menjadi dasar penilaian meliputi performa individu, kontribusi bagi tim, karakter, hingga sikap fair play.

Dengan aturan ketat itu, penghargaan ini diharapkan mencerminkan kredibilitas dan objektivitas.

Enrique Wolff Dicoret dari Panel

Vincent Garcia, pemimpin redaksi France Football, menjelaskan alasan pencoretan Enrique Wolff, eks pemain Argentina yang pernah memperkuat Real Madrid dan River Plate.

“Tahun lalu, pemilih dari Argentina dicoret setelah ia memilih empat pemain Argentina, Messi, Lautaro Martinez, Julian Alvarez, dan Emiliano Martinez, dalam lima besar pilihannya,” ujarnya kepada The Times.

Garcia menambahkan: “Ada empat pemain Argentina di daftar nominasi dan ia memilih semuanya.

Menurut saya, dia telah kehilangan objektivitas. Kami mengganti jurnalis tersebut dan kini ia tidak lagi menjadi pemilih.”

Pernyataan tersebut menunjukkan betapa pentingnya menjaga kredibilitas dalam pemilihan Ballon d'Or, terlebih ketika nama besar seperti Lionel Messi ikut bersaing.

Kasus Jurnalis Palsu di Ballon d'Or 2018

Kontroversi dalam penghargaan Ballon d'Or bukan hanya kali ini terjadi. Pada 2018, publik dikejutkan dengan terungkapnya seorang “jurnalis palsu” dari Komoro yang ternyata tidak pernah ada.

Dia sempat memberikan suara dan menempatkan Kylian Mbappe di posisi teratas, diikuti Luka Modric, Cristiano Ronaldo, Eden Hazard, serta Mohamed Salah.

Meski begitu, suara palsu tersebut tidak berdampak signifikan.

Luka Modric tetap keluar sebagai pemenang dengan mengumpulkan 277 poin, mengakhiri dominasi Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo pada masa itu.

Menjaga Kredibilitas Ballon d'Or

Kasus pencoretan Enrique Wolff dan munculnya jurnalis palsu menjadi pelajaran penting bagi penyelenggara.

Ke depan, transparansi dan independensi dalam pemilihan harus terus dijaga agar Ballon d'Or tetap menjadi penghargaan paling bergengsi di dunia sepak bola.

Dengan pengawasan yang lebih ketat, kontroversi seperti yang menimpa Argentina, Lionel Messi, maupun kasus Luka Modric diharapkan tidak terulang lagi. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#argentina #Lionel Messi #aturan #ballon d or