Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Dari Achmad Nawir ke Jay Idzes: Sejarah Panjang Kapten Garuda dan Mimpi Lolos Piala Dunia 2026, Mampukah Diwujudkan?

Tulus Widodo • Senin, 29 September 2025 | 00:58 WIB
Dari Achmad Nawir hingga Jay Idzes menuju panggung Piala Dunia 2026
Dari Achmad Nawir hingga Jay Idzes menuju panggung Piala Dunia 2026

RADARTUBAN - Di lapangan hijau, ban kapten bukan sekadar kain elastis yang melingkar di lengan kiri.

Ban kapten merupakan simbol kepercayaan, kepemimpinan, dan suara tim di tengah panasnya laga.

Bagi Tim Nasional Indonesia, jabatan kapten selalu menjadi cermin perjalanan sejarah panjang Garuda dari masa ke masa—mulai era Achmad Nawir di Piala Dunia 1938 hingga kini Jay Idzes yang siap memimpin di ronde keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026.

Sejak Achmad Nawir, dokter yang memimpin Indonesia (Hindia Belanda) dalam debut di Piala Dunia 1938, tongkat estafet kapten terus berpindah ke figur-figur sentral:

Achmad Sidhi (1950–1952), Aang Witarsa (1954–1956), Maulwi Saelan (1956), Soetjipto Soentoro (1965–1970), hingga Iswadi Idris yang dua kali dipercaya memimpin (1970–1971 dan 1974–1980). Nama-nama seperti Ronny Pattinasarany, Ricky Yacobi, hingga Robby Darwis juga pernah menjadi wajah kepemimpinan Timnas.

Era 2000-an Dihiasi Wajah Baru

Era 2000-an mencatat wajah-wajah baru: Bima Sakti (2001), Agung Setyabudi (2002–2004), Ponaryo Astaman (2004–2008), Charis Yulianto (2008–2010), dan Bambang Pamungkas (2010–2012).

Lalu hadir Elie Aiboy, Firman Utina, dan Boaz Solossa yang karismanya mendominasi ruang ganti skuad Garuda (2014–2018).

Setelah itu, jabatan kapten berpindah ke Hansamu Yama, Andritany, Evan Dimas, Fachruddin, dan Asnawi Mangkualam—nama terakhir yang memimpin Garuda hingga 2024.

Kini, giliran Jay Idzes. Bek tangguh kelahiran Belanda ini menyandang ban kapten, termasuk saat nanti berlaga pada ronde keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026.

Indonesia tergabung di Grup B bersama tuan rumah Arab Saudi dan Iraq.

Gabungkan Pengalaman Internasional dengan Semangat Lokal

Keputusan ini disebut-sebut sebagai strategi pelatih untuk menggabungkan pengalaman internasional Idzes di Eropa dengan semangat lokal Garuda.

Idzes bukan sekadar pemain belakang berkelas; ia dipercaya menjadi penghubung solid antara pemain senior dan talenta muda yang makin dominan di skuad.

“Ban kapten ini bukan soal status, tapi soal tanggung jawab memimpin di lapangan dan menjadi contoh di luar lapangan,” kata seorang sumber internal PSSI.

Jay Idzes dianggap punya ketenangan, komunikasi yang lugas, dan aura pemimpin yang dibutuhkan dalam laga-laga besar.

Bawa Garuda Terbang Tinggi

Ke depan, publik sepak bola Tanah Air akan menantikan apakah Jay Idzes mampu mengikuti jejak para pendahulunya, bukan hanya dalam memimpin tim, tetapi juga membawa Garuda terbang lebih tinggi di panggung internasional.

Dari Achmad Nawir 1938 hingga Jay Idzes 2024, ban kapten Timnas Indonesia seolah menjadi simbol perlawanan, harapan, dan kontinuitas sebuah perjuangan panjang sepak bola Indonesia.

Dengan ban kapten di lengannya, Jay Idzes kini memegang peran sentral: bukan sekadar bek penghalau serangan lawan, tapi motor semangat dan figur pemimpin Garuda yang tengah mengincar mimpi besar di Kualifikasi Piala Dunia 2026. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#piala dunia #Achmad Nawir #jay idzes #kapten timnas indonesia #perjuangan