RADARTUBAN - San Siro kembali bergemuruh. Bukan sekadar karena tiga poin, tapi karena seorang maestro tua yang menolak pensiun jadi catatan kaki.
Luka Modrić, gelandang yang selama ini identik dengan Real Madrid, kini benar-benar menciptakan “orchestra” merah-hitam di jantung permainan AC Milan.
Pada giornata ke-5 Serie A kontra Napoli, Modrić tampil bagai konduktor yang mengatur tempo, mengeksekusi nada, dan memimpin “symphony” kemenangan Rossoneri.
AC Milan mampu menaklukkan sang juara bertahan dengan skor 2-1.
Dua gol Milan dicetak Alexis Saelemaekers menit ke-3 dan Cristian Pulisic menit ke-31.
Sedangkan satu gol balasan Napoli tercipta pada menit ke-60 melalui eksekusi penalti Kevin De Bruyne.
Kemenangan yang membawa pasukan Massimiliano Allegri melesat ke puncak klasemen sementara Serie A dengan raihan 12 poin.
Perolehan poinnya sama dengan Napoli dan Roma, namun Milan unggul selisih gol.
Statistik Gila Maestro Tua
Dikutip dari akun X @acmilan, dalam laga panas yang sarat gengsi ini, Modrić—bernomor punggung 14—menyuguhkan statistik yang bikin geleng-geleng kepala: 72 sentuhan bola, 7 kali pemulihan bola (recoveries), akurasi umpan 91 persen, 4 intersep krusial, dan bermain penuh 90 menit tanpa kendur.
Bagi pemain yang sudah kenyang gelar Liga Champions, catatan ini bukan sekadar angka di papan tulis.
Ini bukti bahwa visi dan ketenangan yang dibawa ke ruang mesin Milan benar-benar mengubah wajah permainan tim.
Modrić Buktikan Usia Hanya Soal Angka
Kehadiran Modrić di San Siro awal musim ini sempat dianggap perjudian mahal. Usia di atas 35 tahun, fisik tak lagi segar, plus ekspektasi publik Italia yang terkenal kejam.
Namun pertandingan melawan Napoli membuktikan: Rossoneri bukan cuma membeli nama besar, tetapi pengalaman yang membimbing anak-anak muda Milan jadi lebih berani memainkan bola.
Pemain yang berusia 40 tahun pada 9 September lalu itu menjadi titik gravitasi yang menenangkan para penggawa Milan saat situasi terjepit.
Napoli yang biasanya agresif pun seolah kehilangan daya gempur. Empat intersep yang dilakukan Modrić memutus jalur kreatif Partenopei, sementara 91 persen akurasi umpannya memperlancar transisi Milan dari bertahan ke menyerang.
Begitu peluit panjang berbunyi, Modrić merayakan kemenangan dengan kepalan tangan—ekspresi yang jarang ia tunjukkan di Madrid.
Pusat Gravitasi Baru Milan
Lebih dari sekadar debut cemerlang, performa ini menegaskan bahwa Luka Modrić bukan sekadar cameo nostalgia.
Pemain Kroasia itu kini menjadi pusat gravitasi baru AC Milan. Jika konsistensinya terjaga, bukan tak mungkin Modrić menulis babak baru dalam kariernya: membawa Rossoneri kembali ke puncak Serie A sekaligus menakutkan di Eropa.
San Siro pun bersorak bukan hanya karena menang. Mereka bersorak karena menyaksikan legenda hidup menyalakan api di jantung permainan Milan—api yang selama bertahun-tahun seperti padam.
Luka Modrić tidak sedang bernostalgia. Ia sedang mengukir sejarah baru.
Statistik Modric kontra Napoli
72 kali : sentuhan bola
7 kali : pemulihan bola (recoveries)
91 persen : akurasi umpan
4 kali : intersep krusial
90 : menit bermain. (*)