Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Menyambut Harapan Baru Persatu: Dari Juara Piala Nusantara hingga Liga 4, Ini Perjalanan Naik Turun Persatu Tuban

M. Mahfudz Muntaha • Selasa, 7 Oktober 2025 | 02:00 WIB
Persatu pernah berjaya di Piala Nusantara 2014 sebelum terpuruk hingga absen dari liga. Kini, klub bersiap bangkit bersama manajemen baru.
Persatu pernah berjaya di Piala Nusantara 2014 sebelum terpuruk hingga absen dari liga. Kini, klub bersiap bangkit bersama manajemen baru.

RADARTUBAN - Euforia kejayaan Persatu Tuban kala menjuarai Piala Nusantara 2014 itu masih terekam jelas dalam ingatan masyarakat Tuban. Itulah tonggak awal kejayaan Persatu dimulai.

Kala itu, Minggu malam, 14 Desember 2014, di Stadion Sultan Agung Bantul, Persatu menaklukkan Laga FC Surabaya dengan skor 2-1.

Trofi kemenangan berbentuk wayang itu pun akhirnya diboyong pulang ke Bumi Ronggolawe dan diarak keliling kota. Para suporter menyambut dengan penuh kebanggaan.

Kesuksesan Persatu menjuarai Liga Nusantara sekaligus menjadi pembuktian bahwa bahwa sepak bola Tuban mampu bersaing di level nasional.

Tak kalah dengan klub kebanggaan kabupaten tetangga, seperti Persibo Bojonegoro dan Persela Lamongan.

Namun sayang, kejayaan itu tidak bertahan lama. Persatu hanya mampu bertahan di Liga 2 selama semusim. Setelah terdegradasi ke Liga 3, performa terus menurun, hingga terperosok ke Liga 4. Bahkan, pada musim 2024 lalu, tim kebanggaan wong Tuban ini absen dari kompetisi resmi sepak bola Indonesia.

Direktur PT Persatu Tuban Putra Fahmi Fikroni menceritakan, selama Persatu berlaga dari liga amatir sampai liga profesional, Piala Nusantara menjadi satu-satunya trofi yang dimiliki tim berjuluk Laskar Ronggolawe tersebut.

Dan berkat trofi itu pula, Persatu yang semula tim amatir menjadi tim profesional setelah naik kasta ke Liga 2 pada 2017.

‘’Tetapi, perjuangan di Liga 2 hanya satu musim saja, karena dalam babak penyisihan Persatu tidak lolos, akhirnya harus terdegradasi,’’ ujarnya mengenang.

Setelah itu, Persatu masih bisa bangkit. Tak berselang lama—setelah berjuang keras di Liga 3, Persatu kembali promosi ke Liga 2.

‘’Tapi lagi-lagi di musim 2019, terdegradasi di liga 3,’’ ujarnya, dan setelah itu tidak pernah bangkit lagi.

Ketika musim 2020 liga dihentikan karena pandemi, kemudian 2021 gugur di babak penyisihan Liga 3 Jatim, dan 2022 liga tidak bergulir lantaran dihentikan, Persatu mencoba kembali bangkit pada musim 2023 setelah diambil alih suporter, namun gagal lolos fase grup.

Puncaknya pada 2024 lalu, klub yang dulunya bermarkas di Stadion Loka Jaya ini absen dari kompetisi resmi sepak bola Indonesia karena kondisi manajemen yang semakin runyam.

Diakui Roni—sapaan akrab Fahmi Fikroni, peliknya masalah Persatu ini tidak lepas dari persoalan finansial yang tidak stabil.

Minimnya dukungan sponsor membuat Perstu sulit bangkit. Dana pribadi dari urunan para pemegang saham tidak cukup untuk membiayai Persatu dalam mengarungi kompetisi.

‘’Seperti ketika berjuang di Liga Nusantara. Jika hanya mengandalkan pendanaan dari pemerintah daerah saja tidak tidak cukup. Dana dari Askab PSSI Tuban hanya Rp 1,5 miliar, sementara keseluruhan biaya mencapai Rp 3,6 miliar. Artinya, kami harus urunan Rp 2 miliar,’’ ujarnya bercerita.

Apalagi, lanjut dia, setelah berbadan hukum PT, manajemen kesulitan mencari pembiayaan dan sponsorship. Satu-satunya saat itu yang mau untuk memberi sponsor hanya PT Semen Indonesia Group (SIG), yakni Rp 200 juta.

‘’Tetapi perusahaan besar lain enggan untuk menyampaikan kepeduliannya pada dunia sepak bola. Perusahaan lain itu hanya mendukung Rp 10–15 juta saja. Bahkan ada yang hanya memberi Rp 5 juta dan uangnya saya kembalikan,’’ ujarnya.

Lebih lanjut, politikus PKB itu mengakui, pasca terdegradasi dari Liga 2 ke Liga 3 pada 2019, Persatu tak kunjung bangkit.

Bahkan menjadi klub yang hidup segan, mati tak mau.

Itu lantaran para pemegang saham sudah tidak mampu lagi untuk membiayai kebutuhan operasional Persatu.

‘’Dan kami para pemegang saham sudah berkali-kali mencoba menawarkan persatu kepada pihak yang minat untuk mengambil alih, tapi tidak ada yang mau,’’ bebernya.

Dengan semua upayanya menakhodai Persatu, Roni siap dibenci oleh banyak suporter.

Seperti 2019 lalu, ketika kembali terdegradasi ke liga 3, banyak tuntutan untuk dirinya mundur dari manajer.

Kemudian banyak suporter yang menyampaikan ujaran kebencian. Tapi baginya itu tidak masalah, karena semua suara itu berdasarkan rasa cintanya pada klub kebangaan wong Tuban itu.

Kini, Persatu bersiap menghadapi era baru setelah setelah pengelolaannya diambil alih oleh pengusaha sukses sekaligus anggota DPR RI Eko Wahyudi.

‘’Kami percaya Mas Yudi mampu membawa Persatu lebih baik, dan tiga tahun lagi bisa promosi ke liga 3,’’ harapnya.

Untuk tahun ini, terang Roni, targetnya tidak muluk-muluk. Terpenting bisa berpartisipasi di Liga 4 dan tidak terkena sanksi dari Asprov. Baru mulai tahun depan menyiapkan target yang lebih serius.

‘’Harapan dari target kami, tahun kedua nanti bisa lolos ke tingkat nasional. Jika lolos di delapan besar, itu artinya bisa promosi Liga 3. Dan saya kira itu mudah untuk waktu tiga tahun,’’ pungkasnya.

Pesan Askab PSSI: Jangan Campur Adukkan Persatu dengan Politik

Pesan penting dititipkan Asosiasi Kabupaten (Askab) PSSI Tuban diakuisisinya Persatu oleh manajemen baru.

Salah satunya, memisahkan kepentingan politik dengan sepak bola. Sebab, runtuhnya eksistensi Persatu setelah gagal bertahan di Liga 2 tidak lepas dari imbas politik.

‘’Paling penting, jika sepak bola dicampur-adukan dengan politik, maka tidak akan bisa maju,’’ kata Ketua Askab PSSI Tuban Budi Sulistiyono kepada Jawa Pos Radar Tuban. Dan itu pula yang menyebabkan Persatu sulit bangkit setelah gagal bertahan di Liga 2.

Disampaikan Budi, dalam hal manajemen, juga ada satu faktor yang menyebabkan Persatu terbengkalai, tapi tidak banyak disadari para pecinta sepak bola di Kota Legen.

Faktor itu, terang dia, berawal saat Persatu naik kasta ke Liga 2 pada 2017 silam.

Budi menilai, pihak manajemen terkesan buru-buru membentuk PT atau perusahaan untuk menaungi Persatu sebagai syarat tim profesional.

Pembentukan PT dilakukan tanpa mempertimbangkan jangka panjang klub.

Dalam segi pengelolaan klub, terang Budi, kepemilikan Persatu di bawah PT Persatu Putra Tuban dimiliki keempat pemegang saham, yakni Fahmi Fikroni, Miyadi, Ratna Juwita Sari, dan Nashruddin Ali. Keempatnya merupakan politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

‘’Idealnya, sebuah klub dimiliki pemegang saham tertinggi. Jika dimiliki bersama akan sulit membawa arah klub, sebab harus menyatukan pemikiran yang berbeda- beda,’’ jelas Budi.

Terlebih, terang dia, para pemegang saham merupakan kalangan politikus, bukan murni orang yang suka sepak bola.

Sehingga, arah dan dinamika politik sangat memengaruhi keberlangsungan tim.

‘’Yang bisa menyelamatkan Persatu hanya orang yang benar-benar suka sepak bola,’’ tegasnya.

Lebih lanjut Budi menegaskan, sebuah klub sepak bola bisa berkembang apabila melibatkan suara supporter terhadap rencana tujuan ke depan.

‘’Malah akan bagus jika memasukan pentolan supporter dalam jajaran kepengurusan tim. Artinya, maju mundurnya klub bisa terkontrol secara langsung,’’ tandasnya. (fud/an/tok)

 

Editor : Yudha Satria Aditama
#Tuban #persatu #Sepak Bola #Politik #Kejayaan #liga 4 #Eko Wahyudi