RADARTUBAN – Liga Arab Saudi kembali mencuri sorotan dunia.
Kali ini bukan karena bintang lapangan seperti Ronaldo atau Benzema, melainkan sosok di balik layar: Sérgio Conceição.
Pelatih asal Portugal itu resmi diumumkan sebagai manajer baru Al Ittihad dengan kontrak jangka panjang hingga Juni 2027.
Kabar ini dikonfirmasi langsung oleh pakar transfer internasional Fabrizio Romano, yang menyebutkan Conceição datang dengan membawa seluruh “tim tempurnya” dari Eropa.
Turut bergabung di staf pelatih: João Costa, Siramana Dembélé, Fábio Moura, Diamantino Figueiredo, Vedran Runje, serta analis performa Eduardo Oliveira.
Langkah ini menandai babak baru dalam strategi besar Al Ittihad yang sedang berupaya bangkit setelah musim 2024/2025 bersama pelatih Laurent Blanc berakhir di luar ekspektasi.
Klub kaya raya asal Jeddah itu diketahui ingin membangun “proyek Eropa” dengan pendekatan modern—menggabungkan disiplin taktik khas Portugal dan agresivitas permainan Arab.
Punya Rekam Jejak Mentereng Bersama FC Porto
Conceição, yang dikenal garang dan karismatik di pinggir lapangan, punya rekam jejak mentereng saat mengarsiteki FC Porto 2017-2024.
Yakni, enam gelar domestik dan reputasi sebagai salah satu pelatih paling eksplosif di Eropa.
Musim lalu, Conceição membawa AC Milan menggondol Piala Super Italia (Supercoppa Italiana).
Dengan gaya kepelatihan yang keras dan intens, pria 51 tahun itu diyakini bakal mengubah wajah ruang ganti Al Ittihad yang sempat terbelah musim lalu akibat dinamika internal.
Saudi Pro League Belum Kehilangan Daya Tarik
Langkah Al Ittihad ini juga bisa dibaca sebagai sinyal bahwa proyek Saudi Pro League belum kehilangan daya tarik—bahkan kini mulai mengincar “elite taktikus”, bukan sekadar bintang lapangan hijau.
Jika proyek ini sukses, Conceição bisa menjadi figur penting dalam fase baru revolusi sepak bola Timur Tengah.
Pertaruhan Besar Al Ittihad
Langkah Al Ittihad mengontrak Conceição adalah taruhan besar. Pelatih yang memiliki nama lengkap Sérgio Paulo Marceneiro da Conceição itu dikenal temperamental dan keras kepala terhadap manajemen klub, tapi juga jenius dalam memotivasi pemain “lapar kemenangan.”
Dengan sumber daya finansial Al Ittihad dan pengalaman Eropa yang tebal, kolaborasi ini bisa berbuah dua kemungkinan ekstrem: keberhasilan spektakuler atau konflik besar di ruang ganti.
Namun satu hal pasti: Liga Arab Saudi kembali menjadi headline. Dan kali ini, bintang utamanya bukan pemain mahal, melainkan pelatih berotot ego dan prestasi. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni