Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Ada Ketegangan Politik Berkepanjangan, Timnas Negara Ini Tak Bisa Bertemu Spanyol di Lapangan Hijau

Bihan Mokodompit • Rabu, 8 Oktober 2025 | 17:28 WIB
Ilustrasi Timnas Spanyol saat juara turnamen Eropa.
Ilustrasi Timnas Spanyol saat juara turnamen Eropa.

RADARTUBAN - Timnas Spanyol menjadi salah satu tim tersukses di Eropa dalam dua dekade terakhir, namun menariknya Spanyol tak pernah hadapi Gibraltar baik di laga resmi maupun uji coba.

Padahal, sejak Gibraltar menjadi anggota penuh UEFA pada Mei 2013, tim ini telah berpartisipasi dalam berbagai kompetisi Eropa.

Ketegangan politik berkepanjangan antara kedua pihak membuat mereka tak bisa dipertemukan dalam satu pertandingan.

Ketegangan Politik di Balik Larangan Pertandingan

Gibraltar merupakan Wilayah Seberang Laut Britania yang terletak di ujung selatan Semenanjung Iberia dan berbatasan langsung dengan Spanyol.

Klaim kedaulatan atas wilayah tersebut sudah berlangsung lama.

Timnas Spanyol menilai pendudukan Britania atas Gibraltar sebagai tindakan yang tidak sah menurut hukum internasional.

Dalam pernyataan resmi, Kementerian Luar Negeri Spanyol menegaskan bahwa “pendudukan de facto oleh Britania tidak memenuhi syarat hukum internasional untuk memperoleh kedaulatan,” serta menambahkan bahwa Spanyol “selalu menegaskan bahwa pendudukan atas tanah genting tersebut adalah ilegal dan bertentangan dengan hukum internasional, serta selalu menuntut pengembalian tanpa syarat.”

Akibat hubungan yang tegang ini, UEFA menetapkan larangan pertandingan antara Spanyol dan Gibraltar, menjadikannya salah satu dari empat laga yang tidak boleh terjadi bersama Ukraina vs Belarus, Kosovo vs Bosnia dan Herzegovina, serta Kosovo vs Serbia.

Dominasi Spanyol di Eropa

Dalam dua dekade terakhir, Spanyol menjadi simbol kejayaan sepak bola Eropa.

Dengan raihan tiga gelar Euro (2008, 2012, 2024) dan satu Piala Dunia (2010), La Roja mendominasi berbagai ajang internasional.

Nama-nama besar seperti Andres Iniesta, Xavi, Sergio Ramos, hingga Lamine Yamal menjadi bagian dari sejarah gemilang tersebut.

Beberapa tim besar seperti Italia, Jerman, Inggris, dan Belanda pun pernah menjadi korban kekuatan Spanyol di laga final.

Saat ini, tim asuhan Luis de la Fuente masih menjadi kekuatan utama di benua biru, dengan jadwal kualifikasi Piala Dunia melawan Georgia di Elche dan Bulgaria di Valladolid.

Kontroversi Usai Euro 2024

Ketegangan antara Spanyol dan Gibraltar kembali mencuat setelah Spanyol menjuarai Euro 2024.

Dua pemain bintangnya, Rodri dan Alvaro Morata, tertangkap kamera meneriakkan “Gibraltar adalah milik Spanyol.”

UEFA kemudian menjatuhkan larangan bermain satu pertandingan kepada keduanya karena “gagal mematuhi prinsip umum perilaku, melanggar aturan dasar kesopanan, menggunakan ajang olahraga untuk menyampaikan hal-hal bernuansa non-olahraga, serta mencoreng nama baik sepak bola dan UEFA.”

Sementara itu, Asosiasi Sepak Bola Gibraltar (Gibraltar FA) mengecam tindakan tersebut.

Dalam pernyataannya, mereka menegaskan telah “menyadari sifat yang sangat provokatif dan menghina dari perayaan itu,” dan menilai perbuatan tersebut tidak pantas dilakukan oleh perwakilan negara di ajang internasional.

UEFA Tetap Tegas dengan Kebijakan Netralitas

UEFA menegaskan bahwa kebijakan netralitas dan larangan laga Spanyol vs Gibraltar akan tetap diberlakukan demi menghindari konflik politik di ranah olahraga.

Dengan demikian, kedua tim dipastikan tidak akan saling berhadapan dalam waktu dekat.

Langkah ini sekaligus menegaskan posisi UEFA untuk menjaga sportivitas serta menjauhkan sepak bola dari isu-isu politik yang sensitif. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#gibraltar #timnas spanyol #spanyol #eropa #Konflik Politik #UEFA