RADARTUBAN - Pelatih Timnas Maroko, Mohamed Ouahbi, menjadi sorotan setelah menggunakan kartu review request dalam laga semifinal Piala Dunia U-20 melawan Prancis.
Aksi ini menjadi momen bersejarah dalam dunia sepak bola muda karena menandai penerapan teknologi Football Video Support (FVS) untuk membantu wasit dalam mengambil keputusan penting di lapangan.
Drama Semifinal Antara Maroko dan Prancis
Pertandingan antara Timnas Maroko dan Timnas Prancis berlangsung sengit hingga harus ditentukan lewat adu penalti.
Dalam laga tersebut, kiper ketiga Maroko, Abdelhakim El Mesbahi, tampil luar biasa dan menjadi pahlawan kemenangan.
Meski belum pernah tampil di pertandingan sebelumnya, El Mesbahi berhasil menahan beberapa tendangan berkat strategi unik, dia mencetak arah tendangan pemain Prancis di botol minumnya.
Kemenangan ini membawa Timnas Maroko melaju ke final Piala Dunia U-20, di mana mereka akan berhadapan dengan Timnas Argentina pada 19 Oktober mendatang.
Kontroversi Kartu Review Request
Salah satu momen paling menarik dalam pertandingan itu terjadi pada menit ke-72 ketika seorang pemain Maroko dijatuhkan di kotak penalti Prancis. Wasit Gustavo Tejera menolak memberikan penalti, namun pelatih Ouahbi merasa keputusan itu keliru.
Dia pun mengeluarkan kartu review request, sebuah inovasi baru yang diperkenalkan oleh FIFA untuk memberikan kesempatan pelatih meninjau ulang keputusan wasit.
Sesuai aturan FIFA, hanya pelatih kepala atau ofisial senior yang dapat mengajukan permintaan tinjauan, dan hal itu harus dilakukan segera setelah insiden.
Wasit kemudian meninjau tayangan ulang melalui sistem FVS, namun tetap memutuskan tidak ada pelanggaran.
FVS, Teknologi Baru untuk Kompetisi dengan Sumber Terbatas
FIFA menegaskan bahwa Football Video Support (FVS) bukanlah pengganti VAR. Sistem ini menggunakan perangkat portabel di sisi lapangan, dirancang untuk kompetisi yang memiliki sumber daya terbatas.
Tujuan utama FVS, menurut FIFA, adalah untuk “mendemokratisasi sepak bola” dengan menghadirkan teknologi video review ke berbagai level pertandingan, termasuk turnamen muda.
“FVS adalah alat untuk membantu wasit di kompetisi dengan sumber daya dan jumlah kamera yang terbatas. Ini bukan VAR atau versi modifikasinya karena tidak ada ofisial video yang memantau setiap insiden. Kami sangat puas dengan hasil awal dan berharap teknologi ini bisa membantu banyak asosiasi anggota FIFA,” ujar Pierluigi Collina.
Dengan biaya yang lebih rendah dan sistem yang sederhana, FVS diyakini akan memperluas keadilan dalam sepak bola internasional.
Bagi Timnas Maroko, penggunaan kartu review request menjadi simbol kemajuan taktik sekaligus pemanfaatan teknologi dalam upaya meraih prestasi tertinggi di Piala Dunia U-20 (*)
Editor : Yudha Satria Aditama