RADARTUBAN - Ledakan populasi tak serta-merta melahirkan kekuatan sepak bola. Empat negara dengan populasi terbesar dunia—India, China, Indonesia, dan Pakistan—dipastikan absen dari putaran final Piala Dunia FIFA 2026.
Padahal, jika digabung, populasi keempat negara itu mencapai 3,034 miliar jiwa atau sekitar 37 persen dari total penduduk bumi.
Fakta ini menjadi pukulan telak, terutama bagi sepak bola Asia. Empat negara tersebut punya sumber daya manusia melimpah, tapi tak satu pun berhasil menembus putaran final.
Situasi ini menelanjangi jurang lebar antara “jumlah penduduk” dan “mutu pembinaan sepak bola”.
Baca Juga: Pelatih Maroko Gunakan Kartu Review Request, Cetak Sejarah di Piala Dunia U20
Indonesia Tersungkur di Putaran Keempat
Timnas Indonesia menjadi salah satu dari empat negara besar yang harus angkat koper lebih awal.
Dalam kualifikasi zona Asia Grup B, Indonesia - negara dengan penduduk 283 juta jiwa - gagal bersaing dengan Arab Saudi dan Irak.
Pada laga perdana, skuad Garuda tumbang 2-3 dari tuan rumah Arab Saudi dalam duel dramatis. Laga berikutnya, Indonesia kembali takluk 0-1 dari Irak.
Dua kekalahan beruntun itu membuat langkah Indonesia akhirnya terhenti, mengubur mimpi tampil untuk pertama kalinya di pentas tertinggi sepak bola dunia.
Buntut kegagalan ini, Patrick Kluivert juga dipecat dari jabatannya sebagai pelatih Timnas Indonesia.
Tak hanya Kluivert yang angkat koper, namun jajaran staf kepelatihannya juga ikut didepak.
India, China, Pakistan Juga Tak Berkutik
Kegagalan juga dialami India, China, dan Pakistan. India yang memiliki 1,45 miliar jiwa bahkan tersingkir lebih awal, menunjukkan lemahnya infrastruktur kompetisi domestik.
China—yang sempat menggelontorkan investasi besar-besaran di sepak bola—kembali gagal membuktikan ambisi mereka.
Negeri berpenduduk sekitar 1,049 miliar itu terhenti di putaran ketiga.
Pakistan - berpenduduk 251,3 juta - yang masih berjuang membenahi federasinya, juga belum mampu memberi perlawanan berarti di babak kualifikasi awal.
Baca Juga: Timnas Indonesia Jalani Latihan Perdana di Jeddah untuk Kualifikasi Piala Dunia 2026
Ironi Negara Raksasa
Padahal, negara-negara ini punya “modal penduduk” yang sangat besar, yang dalam teori seharusnya bisa mencetak talenta dalam jumlah masif. Tapi realitas di lapangan berbeda.
Minimnya pembinaan usia muda yang terstruktur, kompetisi nasional yang tak stabil, serta buruknya tata kelola federasi jadi akar masalah yang sama.
“Sepak bola bukan soal populasi. Tapi soal sistem. Negara-negara ini membuktikan bahwa jumlah besar tak ada artinya kalau tak punya pondasi yang benar,” ujar seorang analis sepak bola Asia.
Kontras dengan Negara Kecil
Ironi makin tajam jika melihat negara-negara kecil yang justru lolos ke Piala Dunia.
Teranyar, Tanjung Verde yang hanya memiliki penduduk sekitar 550 ribu lolos ke putaran final Piala Dunia 2026.
Negara kecil di Afrika itu mampu mengungguli Kamerun.
Beberapa negara dengan populasi jauh lebih kecil berhasil melaju berkat sistem pembinaan solid dan infrastruktur kompetisi yang sehat.
Misalnya, Uruguay dengan populasi hanya sekitar 3,5 juta jiwa, hampir selalu menjadi langganan Piala Dunia. Kroasia, dengan 4 juta penduduk, bahkan sempat menembus final pada 2018.
Ini kontras tajam dengan India atau China yang ratusan kali lebih besar tapi nihil prestasi.
Alarm Keras Bagi Indonesia
Kegagalan ini seharusnya menjadi alarm keras, khususnya bagi Indonesia. Mimpi Piala Dunia tak bisa ditopang hanya dengan euforia, naturalisasi, atau momentum sesaat.
Dibutuhkan tata kelola profesional, kompetisi berjenjang yang sehat, pembinaan berkelanjutan, dan keberanian memutus siklus tambal sulam.
Populasi besar memang aset. Tapi tanpa visi dan eksekusi, ia hanya akan menjadi angka di atas kertas—bukan kekuatan di lapangan hijau. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni