RADARTUBAN - Pada awal dekade 2010-an, Anzhi Makhachkala sempat menjadi sorotan dunia sepak bola setelah klub asal Rusia itu mendatangkan sejumlah pemain bintang dengan biaya fantastis.
Di bawah kepemilikan miliarder Suleyman Kerimov, klub ini menjadi contoh nyata bagaimana kekuatan finansial bisa mengubah nasib sebuah tim.
Kisah Anzhi Makhachkala menjadi salah satu episode paling menarik dalam sejarah sepak bola modern.
Ambisi Suleyman Kerimov Membangun Anzhi Makhachkala
Tahun 2011 menjadi awal dari ambisi besar Suleyman Kerimov, yang kala itu memiliki kekayaan sekitar £7,2 miliar.
Dia membeli klub kampung halamannya, Anzhi Makhachkala, dengan mimpi menjadikannya kekuatan baru di Eropa.
Sejumlah pemain top dunia pun direkrut untuk memperkuat tim ini.
Dalam dua tahun, Anzhi Makhachkala melakukan 18 transfer besar.
Salah satu yang paling fenomenal adalah kedatangan Samuel Eto’o, yang kala itu menjadi pemain dengan bayaran tertinggi di dunia.
Klub ini juga mendatangkan Roberto Carlos, legenda asal Brasil yang bahkan mendapat hadiah supermewah berupa Bugatti Veyron dari sang pemilik.
Tak hanya itu, Willian direkrut dari Shakhtar Donetsk dengan biaya £31,5 juta, menjadikannya pembelian termahal dalam sejarah klub.
Puncak Kejayaan dan Kemenangan Atas Liverpool
Prestasi Anzhi Makhachkala mencapai puncak pada musim 2012/2013.
Di bawah arahan pelatih Guus Hiddink, klub ini finis di posisi ketiga Liga Primer Rusia—hasil terbaik sepanjang sejarah mereka.
Tak hanya itu, Anzhi juga berhasil menumbangkan raksasa Inggris, Liverpool, di ajang Liga Europa.
Momen tersebut menjadi simbol bahwa klub Rusia ini benar-benar mampu bersaing di level Eropa.
Selain bintang besar seperti Eto’o dan Willian, beberapa nama lain juga ikut memperkuat Anzhi Makhachkala, seperti Yuri Zhirkov, Lassana Diarra, dan Chris Samba.
Dengan susunan pemain mewah tersebut, Anzhi sempat dijuluki sebagai “Klub Sultan” Rusia.
Kejatuhan Setelah Krisis Finansial
Sayangnya, kejayaan Anzhi tak bertahan lama. Pada 2013, Suleyman Kerimov mengalami kerugian besar hingga £5,5 miliar akibat investasi yang gagal.
Dampaknya, proyek ambisius Anzhi Makhachkala terpaksa dihentikan.
Klub harus menjual hampir semua pemain bintangnya dan akhirnya kehilangan status profesional.
Seiring berjalannya waktu, nama Anzhi Makhachkala perlahan tenggelam.
Dari tim yang sempat bersaing dengan klub besar Eropa, mereka kini menjadi pengingat bahwa uang besar tak selalu menjamin kesuksesan abadi di dunia sepak bola.
Warisan dan Pelajaran dari Kisah Anzhi Makhachkala
Meski akhirnya terpuruk, kisah Anzhi Makhachkala tetap menjadi pelajaran berharga bagi dunia sepak bola.
Klub ini menunjukkan bahwa investasi besar bisa mendatangkan kejayaan sementara, namun keberlanjutan dan manajemen yang sehat jauh lebih penting.
Dalam konteks modern, kisah Anzhi sering dibandingkan dengan klub-klub Saudi Pro League yang kini juga gencar mendatangkan pemain bintang seperti Cristiano Ronaldo, Karim Benzema, dan N’Golo Kanté.
Bedanya, proyek sepak bola Arab Saudi memiliki dukungan finansial dan infrastruktur yang jauh lebih stabil. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama