Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Ranking Klub Asia Timur AFC: Jepang dan Korea Makin Tak Tergoyahkan, Indonesia Kian Berat Tembus Top 8!

Tulus Widodo • Jumat, 24 Oktober 2025 | 14:58 WIB
Jepang dan Korea Selatan Masih Jadi Raja Asia Timur
Jepang dan Korea Selatan Masih Jadi Raja Asia Timur

RADARTUBAN – Setelah tiga matchday fase grup AFC Champions League Elite dan AFC Champions League Two, peta kekuatan klub-klub Asia Timur belum bergeser.

Jepang dan Korea Selatan masih mendominasi jauh di depan, sementara Indonesia tertahan di posisi ke-10—tepat di bawah Hong Kong dan masih belum menembus level kompetitif Asia dua tier teratas.

Data terbaru dari akun X (Twitter) @FootyRankings mencatat, tak ada perubahan posisi pada AFC Club Competitions Ranking 2025/26 (East) setelah Matchday 3.

Meski begitu, situasi ini diprediksi bakal berubah signifikan pekan depan ketika turnamen AFC Challenge League mulai bergulir.

Jepang dan Korea: Dua Kekuatan yang Tak Terbantahkan

Jepang masih menjadi raja tak tergoyahkan dengan total poin 98.035, disusul Korea Selatan yang menguntit di angka 81.001.

Kedua negara ini menjadi kiblat klub-klub Asia Timur dalam hal manajemen, kedalaman skuad, dan stabilitas kompetisi domestik.

Kekuatan finansial, kualitas akademi, hingga pengalaman klub-klub seperti Ulsan Hyundai, Pohang Steelers, Yokohama F. Marinos, dan Kawasaki Frontale membuat dua negara ini sulit disaingi.

Tak heran jika keduanya masing-masing menempati dua posisi teratas, yang otomatis mengamankan 3+0 dan 2+1 slot untuk AFC Champions League Elite musim 2027/28.

Thailand, China, dan Malaysia Menanjak Konsisten

Thailand kembali menunjukkan kestabilan dengan raihan 51.638 poin, menempati posisi ketiga.

Klub seperti Buriram United dan Bangkok United memberi kontribusi besar lewat performa stabil di kompetisi antarklub Asia.

Sementara itu, China (47.483) dan Malaysia (37.601) melengkapi posisi lima besar. Malaysia jadi sorotan tersendiri.

Liga Super mereka yang semakin profesional berhasil mendongkrak koefisien poin Asia Tenggara, melampaui Australia (36.844) yang justru mengalami stagnasi.

Vietnam juga mencatat progres positif dengan 35.020 poin, menandakan bahwa sepak bola mereka kini mulai setara dengan kompetitor regional yang lebih mapan.

Indonesia Masih Stagnan di Papan Tengah

Indonesia kembali harus puas di posisi ke-10 dengan total 20.549 poin—jauh tertinggal dari Singapura (30.727) dan bahkan nyaris disalip Kamboja (19.350).

Kondisi ini mencerminkan betapa minimnya kontribusi klub-klub Indonesia di kancah Asia.

Klub Super League yang tampil di kompetisi AFC, seperti Persib Bandung dan Bali United, belum mampu menembus fase yang memberi poin signifikan.

Sistem poin AFC menghitung performa klub selama lima musim terakhir, artinya stagnasi Indonesia bukan akibat satu musim buruk semata, tapi akumulasi dari kurangnya kontinuitas, manajemen kompetitif, dan pengalaman di level kontinental.

Jika tidak segera berbenah, Indonesia berpotensi kehilangan slot tetap di AFC Champions League Two dan harus puas hanya mengirim wakil ke AFC Challenge League—level ketiga yang jauh dari sorotan.

Pekan Depan Penentu: AFC Challenge League Siap Ubah Peta

Menurut laporan @FootyRankings, pekan depan akan jadi momen krusial.

Saat AFC Challenge League—kompetisi kasta ketiga antarklub Asia—dimulai, poin dari negara-negara di papan bawah seperti Kamboja, Filipina, Myanmar, dan Indonesia bisa mengalami perubahan signifikan.

Kompetisi itu memberi peluang bagi negara dengan ranking menengah ke bawah untuk memperbaiki posisi.

Namun, jika hasilnya buruk, posisi Indonesia bisa tergeser hingga keluar dari 10 besar Asia Timur.

Saatnya Indonesia Belajar dari Malaysia dan Vietnam

Malaysia dan Vietnam kini jadi contoh bahwa reformasi kompetisi domestik dan tata kelola klub bisa berimbas langsung pada koefisien Asia.

Malaysia berani melakukan lisensi klub ketat, Vietnam gencar mengekspor pemain muda ke luar negeri.

Sementara Indonesia masih bergelut dengan jadwal liga, infrastruktur, dan inkonsistensi tim.

Di tengah sorotan publik terhadap prestasi klub Super League di level Asia, fakta bahwa Indonesia tertahan di posisi 10 adalah alarm serius.

Jika tren ini tak berubah, 2027 bisa menjadi tahun di mana wakil Indonesia tak lagi punya tempat di AFC Champions League Two.

“Klub-klub Indonesia bukan hanya kalah di lapangan, tapi juga dalam perencanaan dan keberlanjutan kompetitif,” ujar seorang pengamat sepak bola nasional kepada Radar Tuban.

Dominasi Asia Timur Masih Milik Jepang dan Korea, ASEAN Mulai Bergerak

Sampai Matchday 3, Jepang dan Korea masih terlalu tangguh untuk didekati. Namun di bawahnya, Asia Tenggara mulai menyalip cepat. Malaysia, Thailand, dan Vietnam kini memimpin revolusi baru ASEAN di pentas Asia.

Sementara itu, Indonesia masih harus membayar mahal harga dari ketidakseriusan membangun fondasi sepak bola klub yang kuat.

Peringkat 10 memang belum bencana, tapi jika tak ada perbaikan di musim depan, posisi itu bisa jadi pintu keluar dari panggung besar Asia—sebuah kenyataan pahit bagi negara dengan jumlah suporter terbesar di kawasan. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#ASEAN #afc champions league two #jepang #korea selatan #Super League #Indonesia #asia timur #AFC Champions League Elite