Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

21,1 Persen Menuju Juara : Arsenal Paling Diunggulkan Opta, Tapi Liga Champions Tak Kenal Rumus

Tulus Widodo • Jumat, 24 Oktober 2025 | 15:15 WIB
Arsenal Jadi Kandidat Terkuat Juara Liga Champions 2025 Versi Opta
Arsenal Jadi Kandidat Terkuat Juara Liga Champions 2025 Versi Opta

RADARTUBAN – Arsenal sedang jadi buah bibir Eropa. Bukan cuma karena gaya main mereka yang agresif dan efisien, tapi juga karena kalkulasi statistik terbaru dari Opta Probability seperti dirilis akun X @Squawka menempatkan The Gunners sebagai tim paling berpeluang menjuarai Liga Champions musim ini — dengan peluang mencapai 21,1 persen.

Di bawah Arsenal, sang juara bertahan PSG menempel di angka 14 persen, lalu Liverpool (12,3 persen), Manchester City (12,1 persen), dan Bayern Munich (9,3 persen).

Namun, di balik angka-angka itu tersimpan peringatan keras: Liga Champions bukan permainan probabilitas, melainkan pertarungan mental, taktik, dan momentum.

Baca Juga: Cedera Lutut, Martin Odegaard Absen Bela Timnas Norwegia dan Arsenal

Dua Tim yang Masih “Perawan”

Fakta menarik lainnya, hingga matchday ketiga fase grup, Arsenal dan Inter Milan tercatat sebagai dua tim yang belum sekalipun kebobolan.

Data ini mempertegas soliditas lini belakang kedua klub, sesuatu yang jarang terjadi di kompetisi dengan intensitas seketat UCL.

Namun, menurut banyak analis, statistik seperti itu baru sebatas potret sesaat.
Begitu babak gugur dimulai, segalanya bisa berbalik.

“Tim tanpa kebobolan belum tentu tim yang siap mati-matian saat tekanan datang. Di fase knockout, satu gol bisa membunuh narasi,” ujar analis sepak bola Inggris, James Horncastle, dikutip dari Sky Sports.

Kenapa Arsenal Dipuncaki Opta?

Model probabilitas Opta menggabungkan ribuan variabel — mulai dari performa terkini, jumlah tembakan efektif, konsistensi hasil, hingga rasio expected goals (xG).

Arsenal unggul karena efisiensi. Mereka tidak hanya mendominasi pertandingan, tapi juga tahu kapan harus menekan dan kapan harus menahan.

Sampai pekan ini, tim asuhan Mikel Arteta punya rasio pertahanan terbaik di Eropa, dan serangan mereka termasuk yang paling produktif dari peluang terbatas.
Dengan kombinasi itu, wajar jika mesin algoritma menaruh mereka di posisi puncak.

Namun, bagi penggemar yang kenyang pengalaman, angka hanyalah angka.

Masih segar dalam ingatan bagaimana City diunggulkan pada 2020 dan 2021, tapi gagal di semifinal.

Atau PSG yang berkali-kali masuk top favorit, namun selalu kandas di momen genting.

Baru musim lalu PSG akhirnya sukses menggondol gelar juara kompetisi paling elit di Benua Biru itu.

Liverpool dan City: Pengalaman Masih Jadi Senjata

Di bawah Arsenal, ada dua raksasa Inggris yang tak kalah berbahaya: Liverpool dan Manchester City.

Secara statistik, keduanya terpaut sangat tipis. Pengalaman di fase gugur dan kedalaman skuad membuat dua tim ini tetap kandidat kuat, meski model Opta hanya memberi mereka peluang sekitar 12 persen.

Manajer The Citizens, Pep Guardiola dan bos Liverpool, Arne Slot sudah terlalu sering bermain di level ini.

Mereka tahu betul bahwa Liga Champions tak bisa ditaklukkan dengan angka, tapi dengan ritme dan kecerdikan.

PSG dan Bayern Masih Sempurna

Paris Saint-Germain (PSG) dan Bayern München tampil paling perkasa — sama-sama mengoleksi 9 poin sempurna dari 3 laga dengan selisih gol +10, memuncaki daftar klasemen sementara yang dirilis akun @ChampionsLeague.

PSG berada di puncak berkat agresivitas luar biasa di lini depan. Tiga laga, tiga kemenangan, sepuluh gol, dan hanya kebobolan sekali — menunjukkan mesin serang Luis Enrique berjalan nyaris tanpa cela.

Bayern München tak kalah garang. Tim asuhan Vincent Kompany itu juga menyapu bersih tiga laga dengan performa stabil di semua lini.

Namun, Opta hanya menempatkan klub Bavarian itu di posisi kelima (9,3 persen).

Antara Angka dan Realitas

Probabilitas hanyalah cara lain untuk membaca peluang, bukan untuk meramal.

Liga Champions penuh kejutan, dan sejarahnya panjang membuktikan bahwa data jarang bisa menang melawan emosi.

Statistik memang bisa membaca kecenderungan, tapi hanya sepak bola yang bisa menulis keajaiban. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#Liga Champions #Opta Probability #Liverpool #bayern munchen #pep guardiola #Manchester City #PSG #arsenal