RADARTUBAN – Akhirnya teka-teki kursi panas di Allianz Stadium terjawab. Luciano Spalletti dikabarkan setuju menukangi Juventus hingga Juni 2026.
Kesepakatan sudah tercapai secara verbal, tinggal menunggu hitam di atas putih.
Kabar itu disampaikan langsung oleh jurnalis transfer kenamaan, Fabrizio Romano, melalui akun X resminya.
Ia menulis bahwa kedua pihak sudah menyepakati detail kontrak, termasuk opsi perpanjangan otomatis jika Juventus mampu finis di zona Liga Champions musim ini.
Langkah ini menandai babak baru bagi La Vecchia Signora yang baru saja berpisah dengan Igor Tudor.
Spalletti—yang terakhir membawa Napoli juara Serie A 2023—dianggap sebagai sosok ideal untuk mengembalikan karakter sepak bola menyerang yang sempat menguap dari DNA Juventus.
“Juventus ingin tim bermain dengan karakter, bukan hanya bertahan dengan nama besar,” ujar salah satu sumber internal klub seperti dikutip media Italia.
Meski baru sebatas kesepakatan verbal, proses administrasi sedang ditangani oleh tim hukum kedua belah pihak.
Jika semua berjalan lancar, pengumuman resmi hanya tinggal menunggu waktu.
Analisis: Juventus di Tangan Spalletti — Dari Blok Rendah ke Tekanan Tinggi
Kedatangan Spalletti bukan cuma pergantian kursi pelatih. Ini potensi revolusi taktik di Turin.
Dalam beberapa musim terakhir, Juventus dikenal bermain aman dan kaku di bawah Massimiliano Allegri, lalu kehilangan arah di masa Tudor. Spalletti datang membawa napas baru—lebih dinamis, lebih berani.
Eks pelatih Roma dan Napoli itu dikenal dengan positional play berbasis pergerakan tanpa bola, di mana setiap pemain punya tanggung jawab membangun serangan dari bawah. Ia menuntut possession football dengan tekanan tinggi dan rotasi posisi cepat.
Nama-nama seperti Dusan Vlahovic dan Jonathan David bakal jadi senjata utama.
Dalam sistem Spalletti, Jonathan bisa lebih bebas menembus ruang di belakang bek lawan, sementara Vlahovic berpotensi kembali tajam karena mendapat suplai bola lebih variatif dari lini tengah.
Sementara itu, Manuel Locatelli bisa berubah menjadi poros vital layaknya Stanislav Lobotka di Napoli—pengatur tempo sekaligus penyeimbang transisi. P
emain muda seperti Kenan Yildiz pun kemungkinan besar akan dapat ruang lebih besar karena Spalletti dikenal tak ragu memberi kepercayaan pada talenta muda.
Baca Juga: Juventus Depak Igor Tudor! Brambilla Naik Jadi Pelatih Sementara, Si Nyonya Tua Krisis Identitas?
Era Baru Bianconeri
Jika semuanya berjalan mulus, debut Spalletti bisa menjadi momentum kebangkitan Juventus—bukan hanya untuk merebut tiket Liga Champions, tapi juga membangun identitas permainan modern yang lebih segar dan atraktif.
“Spalletti adalah pelatih yang tak cuma berpikir soal menang, tapi soal bagaimana caranya menang,” tulis Gazzetta dello Sport dalam editorialnya.
Bagi fans Bianconeri, kabar ini seperti udara segar setelah bertahun-tahun menonton tim kesayangannya tampil konservatif. Kini, Juventus bersiap menatap masa depan—lebih progresif, lebih menyerang, dan (akhirnya) kembali hidup.
Berpengalaman Latih Klub Serie A
Spalletti bukan nama ecek-ecek. Pelatih berkepala plontos itu pernah membawa Napoli juara Serie A dengan gaya bermain modern, rapi, dan efisien.
Track record-nya menunjukkan satu hal: tim yang dilatihnya hampir selalu naik kelas—baik secara performa maupun mentalitas.
Dilansir dari wikipedia, Spalletti memulai karier manajerialnya dengan Empoli pada tahun 1993.
Setelah itu, pelatih kelahiran Certaldo tersebut melanjutkan untuk melatih sejumlah klub-klub di Italia lainnya, termasuk dua periode bersama AS Roma.
Saat membesut Roma, allenatore yang kini berusia 66 tahun itu memenangkan dua gelar Coppa Italia berturut-turut.
Spalletti melatih Zenit St. Petersburg dari 2009 hingga 2014, memenangkan dua gelar Liga Utama Rusia.
Musim 2017, Spalletti berlabuh ke Inter Milan. Setelah dua musim bertugas di Inter, ia ditunjuk sebagai manajer Napoli pada tahun 2021.
Spalletti memenangkan Serie A di musim 2022–23 sebelum meninggalkan klub pada Juni 2023. Pada Agustus 2023, ia ditunjuk sebagai pelatih tim nasional Italia sebelum akhirnya digantikan Gennaro Gattuso. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni