RADARTUBAN – Ada yang sedang bermasalah di tubuh Liverpool. Bukan di lini depan yang masih rutin mencetak gol, melainkan di jantung pertahanan yang kini seperti rumah tanpa pagar.
Fakta mencengangkan datang dari akun statistik @Squawka: The Reds sudah 10 pertandingan beruntun kebobolan di semua ajang.
Mulai dari kekalahan 2-3 melawan Atlético Madrid, 1-2 dari Everton, hingga dipermalukan 0-3 oleh Crystal Palace di Anfield—semuanya menunjukkan satu hal: lini belakang Liverpool sedang kehilangan identitasnya.
Baca Juga: Arne Slot Dapat Kecaman Keras Usai Komentari Kekalahan Liverpool dari Manchester United
Era Klop Miliki Benteng Tangguh
Padahal, di era Jurgen Klopp, Liverpool pernah dikenal dengan benteng baja bernama Van Dijk–Alisson–Robertson–Trent.
Kini, kombinasi yang dulu membuat lawan frustrasi justru tampak rapuh. Alisson kerap ditinggalkan sendirian menghadapi badai serangan, sementara koordinasi lini belakang terlihat kacau.
Total ada 23 gol bersarang di 10 laga terakhir—rata-rata lebih dari dua gol per pertandingan.
Dari Liga Inggris, Piala Liga, hingga Liga Champions, tak ada satu pun laga di mana Liverpool bisa pulang dengan gawang perawan.
Publik Anfield Mulai Gelisah
Situasi ini membuat publik Anfield mulai gelisah. Arne Slot, pelatih yang diharapkan membawa stabilitas pasca-Klopp, justru menghadapi krisis kepercayaan dini.
Pelatih asal Belanda itu dituntut untuk segera menemukan keseimbangan antara sepak bola menyerang yang atraktif dan pertahanan yang solid.
Slot harus gercep membawa Liverpool kembali digdaya seperti musim lalu ketika menjuarai Premier League mematahkan dominasi Manchester City.
“Masalahnya bukan cuma soal bek. Pressing-nya hilang, jarak antar lini terlalu renggang,” tulis salah satu analis taktik Inggris di platform X.
Sinyal Alarm The Reds Kehilangan DNA Juara
Bagi penggemar Liverpool, ini bukan sekadar statistik buruk, tapi sinyal alarm bahwa The Reds kehilangan DNA-nya: disiplin, intens, dan tak kenal kompromi di belakang.
Jika tren ini tak segera berhenti, bukan mustahil musim Liverpool akan berubah dari mimpi indah menjadi mimpi buruk — dengan barisan belakang sebagai titik rawan paling mematikan. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni