RADARTUBAN – Seribu pertandingan. Angka yang lebih cocok untuk legenda yang sudah menua.
Tapi Pep Guardiola belum menunjukkan tanda-tanda melambat. Justru di laga ke-1.000-nya sebagai manajer, pria berkepala plontos itu masih tampak lapar—lapar kemenangan, lapar kesempurnaan.
Dikutip dari akun X @OptaAnalyst, dari total 1.000 pertandingan yang ia pimpin, 716 di antaranya berakhir dengan kemenangan. Sisanya? 156 kali imbang, dan hanya 128 kali kalah.
Statistik yang membuat banyak pelatih lain cuma bisa menatap papan taktik sambil menghela napas panjang.
Terbaru, Pep membawa Manchester City membantai Liverpool 3-0 pada pekan ke-11 Premier League, Minggu (9/11) malam.
Gol-gol The Citizens lahir dari Erling Haaland (29’), Nicolas Gonzalez (45+3’), dan Jeremy Doku (63’).
Koleksi 40 Trofi Sepanjang Karier Kepelatihan
Namun yang lebih mencengangkan: 40 trofi sudah ia koleksi sepanjang karier. Ya, empat puluh! Jumlah yang menyaingi isi museum klub besar.
Enam gelar Premier League, tiga Liga Champions, empat Piala Dunia Antarklub, tiga La Liga, tiga Bundesliga—dan masih berlanjut.
Dari Barcelona, Bayern Munich, hingga Manchester City, trofi seolah jadi kawan seperjalanan Guardiola.
Pep datang, membangun sistem, memeras ide, lalu meninggalkan warisan yang tak bisa ditiru begitu saja.
Arsitek Sepak Bola Modern
Pep bukan sekadar pelatih. Pria yang memiliki nama lengkap Josep Guardiola Sala itu arsitek sepak bola modern.
Pelatih asal Spanyol itu mengubah “menguasai bola” dari sekadar strategi menjadi filsafat hidup.
Mantan bintang Barcelona itu bisa membuat bek tengah berpikir seperti gelandang, dan kiper berperan layaknya playmaker.
Kini di usia 54 tahun, Pep bukan lagi sekadar pemburu gelar, melainkan simbol dari disiplin yang estetis — keindahan yang lahir dari obsesi dan ketelitian ekstrem.
Dan seribu pertandingan hanyalah angka. Karena bagi Pep, permainan belum selesai—selama bola masih bisa dikendalikan, dan ruang masih bisa diciptakan. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni