Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Berkaca dari Kevin Diks, Mengapa Seorang Pemain Sepakbola Bisa menjadi Spesialis Tendangan Penalti?

Bihan Mokodompit • Selasa, 11 November 2025 | 16:02 WIB
Eksekusi Penalti dari Kevin Diks untuk timnya, Borussia Monchengladbach.
Eksekusi Penalti dari Kevin Diks untuk timnya, Borussia Monchengladbach.

RADARTUBAN - Seorang pemain bisa menjadi spesialis tendangan penalti karena kombinasi dari teknik matang, mental baja, serta pengalaman yang konsisten, dan kisah Kevin Diks memberi contoh konkret bagaimana eksekutor penalti bisa muncul dalam sebuah tim.

Teknik, Latihan, dan Akurasi

Pertama, seorang spesialis penalti memiliki teknik superior: akurasi dalam menempatkan bola di sudut yang sulit dijangkau kiper, serta kemampuan memilih gaya tendangan sesuai kondisi.

Latihan terus-menerus pun jadi bagian tak terpisahkan. Hasil riset menunjukkan bahwa penguasaan teknik seperti run-up yang lancar, perhatian terhadap bola ketimbang kiper, dan pengambilan keputusan yang cepat menjadi faktor kunci sukses dari penalti.

Selanjutnya, latihan yang terstruktur, termasuk simulasi tekanan, membantu pemain menguasai situasi tendangan dari titik putih.

Riset menunjukkan bahwa baik strategi “keeper‐independent” maupun “keeper‐dependent” bisa sukses, namun pemain dengan rutinitas yang baik lebih siap menghadapi tekanan.

Mental, Kepercayaan, dan Konsistensi

Kedua, unsur mental dan kepercayaan juga sangat penting. Pemain spesialis penalti umumnya memiliki ketenangan dalam situasi tekanan tinggi, mampu mengendalikan napas, dan tetap fokus meskipun banyak sorakan atau ekspektasi.

Sebagaimana dikatakan oleh sebagian pemain profesional:

“Kata kuncinya bagi saya adalah rutinitas. … Kamu bisa melatih rutinitasmu sendiri. … Cara kamu bernapas, bagaimana kamu menenangkan diri…”

Kepercayaan dari pelatih dan tim juga memberi peran besar: ketika seorang pemain terbukti berhasil secara konsisten, maka ia akan ditunjuk sebagai eksekutor penalti secara tetap. Ini memperkuat statusnya sebagai spesialis.

Reputasi, Peran, dan Pengalaman Kompetitif

Ketiga, pemain yang jadi spesialis tendangan penalti bukan muncul secara kebetulan, seringkali mereka juga ditunjuk karena rekam jejak dan reputasi di tim sebelumnya.

Sebagai contoh nyata: Kevin Diks baru-baru ini mencetak gol pertamanya di Bundesliga Jerman lewat titik putih, sekaligus menasbihkan dirinya sebagai pemain Indonesia pertama yang mencetak gol di Bundesliga.

Ia juga diketahui menjadi eksekutor penalti untuk timnas Indonesia dan klub sebelumnya yakni FC Copenhagen, menunjukkan bahwa statusnya sebagai spesialis penalti telah terbentuk dari pola pemberian tugas otomatis dalam tim.

Mengapa Ini Bisa Terjadi?

Berbicara secara sistematis:

• Pemain yang sering ditunjuk penalti akan menerima lebih banyak latihan khusus dan pengalaman dalam skenario nyata.

• Pelatih dan tim menyadari bahwa situasi penalti adalah momen tekanan tinggi, sehingga memilih pemain yang sudah terbukti ketenangannya.

• Pemain tersebut membangun reputasi sebagai “go-to” saat penalti, sehingga tim dan lawan mengenalnya sebagai spesialis — yang kemudian makin memperkuat kepercayaan diri dan performanya.

Singkatnya, menjadi spesialis penalti bukan hanya soal kemampuan satu tendangan, melainkan soal teknik, mental, latihan, kepercayaan tim, dan pengalaman dalam skenario nyata.

Pelajaran dari Kisah Kevin Diks

Kisah Kevin Diks memberikan pelajaran konkret: ketika ia ditunjuk sebagai eksekutor penalti di timnas Indonesia dan FC Copenhagen, kemudian mencetak gol dari titik putih di Bundesliga sebagai orang Indonesia pertama, maka faktor-faktor di atas berkonvergensi: teknik, kepercayaan untuk mengambil penalti, dan momentum kompetitif.

Dengan kata lain, status spesialis penalti tidak muncul instan, melainkan dibentuk oleh rangkaian proses dan pembuktian. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#tendangan pinalti #Kevin Diks #Indonesia #mental #bundesliga