Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Milan Kehilangan Taji di Lini Depan : Striker Nihil, Ambisi Juara Serie A Cuma Ilusi?

Tulus Widodo • Selasa, 11 November 2025 | 19:31 WIB

 

Statistik buruk striker Milan picu kritik. Rival cetak gol, Milan kembali bergantung pada sayap dan gelandang untuk menutup kekurangan.
Statistik buruk striker Milan picu kritik. Rival cetak gol, Milan kembali bergantung pada sayap dan gelandang untuk menutup kekurangan.

RADARTUBAN - Alarm bahaya berbunyi keras di Milanello. AC Milan, klub yang dulu dikenal dengan tradisi penyerang haus gol, kini menjadi satu-satunya tim Serie A yang penyerangnya belum mencetak satu gol pun hingga pekan ke-11.

Sementara rival-rivalnya, dari Inter, Juventus, hingga Napoli, sudah menikmati kontribusi striker di papan skor, duo lini depan Milan — Santiago Giménez dan Christopher Nkunku — justru mandek total.

Zero goal. Nol. Catatan memalukan yang menampar ambisi Rossoneri untuk kembali merebut scudetto.

Baca Juga: AC Milan Kecewa Berat pada Santiago Giménez, Sudah Siapkan Empat Striker Pengganti!

Statistik dari akun X @SleeperACMilan yang viral minggu ini membuat para tifosi geram: “Milan is the ONLY team in Serie A whose strikers are still at 0 goals.”

Fakta yang mencolok, menyakitkan, sekaligus membongkar masalah fundamental: Milan bisa punya sistem, bisa punya nama besar, tapi tanpa gol dari ujung tombak — semua rencana tinggal wacana.

Krisis Gol di Klub yang Dulu Mencetak Legenda

Bagi Milanisti, ini bukan sekadar angka di papan statistik. Ini soal identitas.

Dulu ada Marco van Basten, George Weah, Andriy Shevchenko, Filippo Inzaghi, hingga Zlatan Ibrahimović — deretan nama yang menjadi ikon keberingasan di depan gawang lawan. Kini, posisi itu terasa sunyi.

Sepuluh pekan berjalan, semua gol Milan datang dari lini tengah dan sayap. Rafael Leão masih jadi motor utama dan Pulisic mencatatkan beberapa kontribusi.

Padahal, Milan mendatangkan Santiago Giménez dari Feyenoord dengan ekspektasi tinggi: sang bomber yang mencetak 23 gol di Eredivisie musim lalu diharapkan menjadi jawaban kekeringan gol setelah era Giroud.

Lalu Nkunku, rekrutan mahal dari Chelsea, digadang bisa menjadi false nine eksplosif dengan mobilitas dan insting gol tinggi.

Tapi hingga kini, keduanya masih menunggu “gol pertama”.

Rival-Rival Sudah Nyalakan Mesin

Perbandingannya kejam. Inter sudah mendapatkan 12 gol dari kombinasi Lautaro Martínez (4), Marcus Thuram (3), Bonny (4), dan Pio Esposito (1).

Napoli juga tak kalah: Rasmus Højlund sudah mencetak dua gol, Lorenzo Lucca satu.

Bahkan Bologna, klub medioker musim lalu, bisa mendapat lima gol dari duet Castro dan Dallinga.

Sementara Milan? Satu-satunya angka “0” di kolom striker. Hanya mereka yang benar-benar nihil kontribusi dari lini depan.

“Bagaimana mau bersaing untuk scudetto kalau striker tak pernah mencetak gol?”
Pertanyaan itu bukan cemoohan, tapi realitas.

Dalam liga seketat Serie A, di mana setiap poin ditentukan oleh efektivitas, tim tanpa penyerang tajam seperti berjalan tanpa senjata.

Taktik yang Membunuh Naluri

Masalah Milan bukan hanya soal finishing. Lebih dalam dari itu: sistem permainan Massimiliano Allegri justru dianggap mematikan naluri alami striker.

Dalam beberapa laga terakhir, Milan tampil dengan pola 4-2-3-1 yang sejatinya mengandalkan sayap cepat dan overlap full-back. Namun, aliran bola ke penyerang tengah justru minim.

Nkunku sering ditarik terlalu ke dalam untuk membantu build-up, sementara Giménez kerap terisolasi di depan, menerima bola dengan punggung ke gawang tanpa dukungan cepat dari Leão maupun Pulisic.

Analisis dari media Italia menyoroti hal yang sama: Milan terlalu bergantung pada Leão untuk menciptakan peluang. Ketika Leão dijaga ketat, serangan Milan stagnan.

Dampaknya, striker kehilangan suplai — dan kepercayaan diri ikut ambruk.

Mental dan Tekanan Publik

Setiap pertandingan di San Siro kini terasa seperti ujian mental. Giménez, yang datang dengan aura bintang dari Meksiko, mulai terlihat frustrasi.

Dalam tiga laga terakhir, ia mencatatkan total 11 tembakan tanpa satu pun tepat sasaran.

Nkunku, yang masih beradaptasi dengan ritme Serie A setelah cedera panjang, bahkan tampak ragu dalam mengambil keputusan di kotak penalti.

Fans Milan pun mulai kehilangan sabar. Beberapa spanduk muncul di Curva Sud: “Kami butuh gol, bukan nama besar.”

Tekanan itu nyata. Milan, klub dengan sejarah 19 gelar liga, tak terbiasa dengan striker mandul.

Setiap kali kamera menyorot wajah Allegri, ekspresinya sama: cemas dan murung, seolah tak tahu lagi formula apa yang harus dicoba.

Sisi Lain: Serie A Memang Krisis Gol

Menariknya, meskipun Milan yang paling parah, sebenarnya hampir semua tim Serie A sedang kesulitan mencetak gol lewat striker.

Lautaro menjadi pengecualian, sementara mayoritas tim hanya mendapat kontribusi dua-tiga gol dari penyerang utama.

Ada yang sudah menuding taktik modern di Italia sebagai penyebab:

Terlalu banyak tim yang bermain dengan blok rendah dan pressing zonal, membuat ruang di kotak penalti makin sempit.

Namun Milan tetap ekstrem: bukan hanya sedikit, tapi benar-benar nol. Itu artinya, bukan sekadar masalah taktik umum liga — tapi kegagalan internal tim dalam mengeksekusi peluang.

Kepercayaan Diri yang Runtuh

Striker hidup dari dua hal: peluang dan keyakinan. Ketika peluang tidak datang, mental pun menurun. Dan ketika mental jatuh, insting mencetak gol ikut padam.

Giménez sering terlihat berteriak frustasi setelah gagal menerima umpan matang.

Nkunku, yang dikenal dengan gaya flamboyannya di Leipzig dan Chelsea, justru tampak kehilangan keberanian untuk menembak cepat. Mereka berdua seperti kehilangan identitas.

Beberapa pengamat menyebut kondisi ini mirip dengan era 2019, ketika Milan masih mengandalkan Krzysztof Piątek dan André Silva — sama-sama tajam di klub lama, tapi hilang di San Siro.

Presiden dan Direksi Mulai Gelisah

Paolo Maldini sudah lama pergi, tapi bayang-bayangnya masih terasa.

Manajemen baru Milan, di bawah RedBird Capital, menginvestasikan dana besar untuk mendatangkan Nkunku dan Giménez dengan harapan tinggi. Kini, hasilnya belum terlihat.

Direktur Olahraga Geoffrey Moncada bahkan dikabarkan menggelar rapat tertutup minggu lalu untuk mengevaluasi lini depan.

Salah satu opsi yang dibahas: mendatangkan striker berpengalaman pada jendela transfer Januari jika situasi tak membaik. Nama-nama seperti Jonathan David (Lille) dan Armando Broja (Chelsea) disebut-sebut dalam radar.

Kilas Balik: Ketika Milan Hidup dari Striker

Sulit membicarakan Milan tanpa menyebut striker legendarisnya. Van Basten dengan gaya anggunnya, Weah dengan daya ledak liar, Shevchenko dengan akurasi maut, Inzaghi dengan timing yang gila — semua simbol bahwa Milan selalu memulai kemenangan dari depan.

Musim 2002-2003, Inzaghi mencetak 30 gol di semua kompetisi dan membawa Milan juara Liga Champions.

Musim 2010-2011, Ibrahimović datang dan langsung jadi top scorer klub dengan 21 gol, menuntun Milan ke scudetto.

Kini, kontrasnya mencolok: 12 laga tanpa satu pun gol dari striker. Milan kehilangan sesuatu yang dulu jadi jantungnya — striker yang menakutkan.

Analisis: Kesalahan Strategi Rekrutmen?

Beberapa analis Serie A menilai Milan salah strategi dalam transfer musim panas.

Mereka terlalu fokus pada “nama besar” dan potensi komersial, bukan kebutuhan taktis.

Nkunku memang pemain kreatif, tapi bukan tipikal poacher murni. Sementara Giménez, meski tajam di Belanda, belum tentu cocok di liga Italia yang lebih padat dan fisikal.
Dalam beberapa laga, terlihat jelas: keduanya tidak saling melengkapi.

Kombinasi dua striker yang sama-sama suka turun mencari bola justru membuat area penalti kosong.

Milan akhirnya mencetak gol lewat pemain tengah — bukan karena skema, tapi karena improvisasi.

Reaksi Publik dan Media

Media Italia, yang tak pernah melewatkan drama Milan, langsung menjadikannya headline.

Gazzetta dello Sport menulis: “Milan tanpa gigitan. Sistem bagus, tapi tanpa taring.”

Sementara Corriere dello Sport lebih tajam lagi: “Rossoneri bermain indah sampai kotak penalti, lalu menghilang.”

Komentator legendaris Fabio Capello juga ikut bicara di Sky Italia: “Mereka punya pemain bagus, tapi tidak punya pembunuh di depan gawang. Itu bukan masalah taktik — itu masalah karakter.”

Suporter: Antara Kesabaran dan Kejenuhan

Curva Sud Milan dikenal loyal. Tapi mereka juga paling keras. Dalam laga terakhir di San Siro, beberapa tifosi menolak berteriak sampai Milan mencetak gol.

Ketika peluit akhir berbunyi tanpa tambahan angka dari striker, mereka hanya menyalakan flare merah — simbol kemarahan.

Di media sosial, muncul tagar #FindOurNumber9 dan #WakeUpGimenez.

Beberapa fans bahkan meminta klub memanggil kembali striker akademi Francesco Camarda yang baru berusia 17 tahun — sekadar “mengingatkan senior bahwa gol itu bisa datang dari mana saja.”

Prediksi dan Harapan

Milan masih punya waktu memperbaiki. Musim masih panjang. Tapi satu hal pasti: jika striker tetap nihil hingga paruh musim, mimpi scudetto akan berubah jadi sekadar nostalgia.

Giménez dan Nkunku tidak boleh hanya jadi simbol proyek mahal. Mereka harus jadi sumber gol. Karena di sepak bola, segalanya bisa dimaafkan — kecuali mandul terlalu lama.

Rossoneri Butuh “Darah Pemburu” Lagi

San Siro selalu menuntut striker yang buas. Mereka tak butuh gaya, mereka butuh insting.

Dulu ada Inzaghi yang hidup dari setengah peluang. Sekarang, Milan harus menemukan versi modernnya — siapa pun dia.

Karena klub sekelas Milan tidak bisa bersaing hanya dengan gelandang kreatif dan bek produktif.

Mereka butuh taring di depan gawang. Tanpa itu, warna merah-hitam akan terus terlihat pucat. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#zlatan ibrahimovic #AC Milan #gimenez #serie A #Christopher Nkunku