RADARTUBAN – Liga Serie A musim ini kembali memamerkan pesonanya. Tidak hanya lewat duel sengit di papan atas, tapi juga lewat parade pemain yang tampil gila-gilaan di pekan ke-11.
Dari bintang utama seperti Lautaro Martínez hingga kejutan manis dari Andrea Pinamonti, semua mengisi daftar Best XI versi Fantacalcio, situs fantasy football paling populer di Italia.
Namun, kali ini bukan sekadar daftar nama. Line-up pekan ini menyimpan cerita kecil tentang kerja keras, kebangkitan, dan kejutan yang jarang mendapat sorotan utama.
Dari penjaga gawang muda yang tenang di bawah mistar, sampai gelandang pekerja keras yang menjadi jantung timnya.
Lautaro, Kapten yang Tak Pernah Kehabisan Nafas
Di lini depan, nama Lautaro Martínez (Inter Milan, rating 7.0) kembali jadi figur sentral. Tak ada yang baru, tapi justru di situlah kekuatannya. Lautaro bermain dengan ritme konstan: agresif, tajam, dan konsisten.
Minggu demi minggu, ia seperti mesin yang tidak pernah padam. Tak peduli siapa lawannya, Lautaro tetap menekan, mencari ruang, dan memimpin rekan-rekannya dengan mental baja khas kapten.
Di pekan ke-11 ini, kontribusinya bukan hanya soal gol, tapi juga soal bagaimana ia menjaga tempo permainan Nerazzurri di saat tim lain goyah.
Kalau Inter bisa terus memuncaki klasemen, banyak yang tahu, itu karena Lautaro lebih dari sekadar striker. Ia sudah jadi simbol stabilitas di tim yang dulu terkenal “meledak-ledak”.
Berardi: Sang Maestro yang Tak Pernah Mati Gaya
Sementara di sisi kanan, Domenico Berardi (Sassuolo, rating 8.5) tampil seperti orkestra tunggal.
Ia bukan pemain baru, bukan pula wajah asing di Serie A. Tapi setiap kali Sassuolo butuh penyelamat, Berardi seolah tahu kapan harus menyalakan lampu panggung.
Dengan dua gol brilian di pekan ini, Berardi seperti ingin mengatakan: usia boleh bertambah, tapi kelas tidak akan hilang.
Penampilannya kali ini bukan sekadar statistik—melainkan pertunjukan penuh karakter.
Berardi tampil dengan visi matang, memotong dari kanan, dan mengirim tembakan keras yang menjadi momok kiper lawan.
Tak heran ia mendapat nilai tertinggi di antara semua pemain Best XI kali ini.
Ia mungkin tidak lagi sepopuler Mbappé atau Leão di mata publik global, tapi di Italia, nama Berardi tetap sinonim dengan “teknik murni”.
Baca Juga: Resmi! Inter Milan Boyong Gelandang Timnas Prancis U 23 Andy Diouf dengan Kontrak 5 Tahun
Pinamonti: Saat Kesempatan Jadi Bukti
Di sisi lain, Andrea Pinamonti (Sassuolo, rating 7.5) kembali menunjukkan bahwa dirinya belum habis.
Dalam bayang-bayang striker muda lain, Pinamonti justru mencuri perhatian dengan permainan matang dan efisien.
Ia mencetak gol dengan gaya khasnya: tajam di kotak penalti, dingin saat eksekusi. Tapi yang lebih penting, ia tak banyak bicara. Tak banyak selebrasi berlebihan.
Pinamonti hanya menunduk dan berlari kembali ke tengah lapangan—seolah tahu bahwa yang penting adalah menit berikutnya.
“Pinamonti bukan hanya striker, tapi simbol pemain Italia yang tidak menyerah di tengah badai,” tulis salah satu media lokal.
Dan pekan ini, ia membuktikan bahwa kerja keras masih punya tempat di liga yang semakin glamor.
Gelandang: Dari Gudmundsson yang Cerdik hingga Pellegrini yang Elegan
Barisan tengah pekan ini seperti kolase dari berbagai gaya bermain. Ada Lorenzo Pellegrini (AS Roma), Alexis Saelemaekers (AC Milan), Gudmundsson (Fiorentina), dan Touré (Salernitana).
Mereka mungkin bukan headline seperti striker atau kiper, tapi peran mereka justru vital.
Pellegrini tampil elegan—tak banyak dribel sia-sia, tapi setiap sentuhannya berarti. Ia mengatur tempo Roma dengan gaya khas kapten sejati.
Meski rating “hanya” 7.0, kontribusinya terlihat dari stabilitas lini tengah yang menahan laju lawan.
Sementara Gudmundsson, yang baru musim ini mencuri perhatian di Fiorentina, menunjukkan kecerdikan luar biasa.
Pergerakannya tanpa bola kerap membuka ruang bagi sayap untuk menusuk. Nilai 7.0 jadi bukti ia bermain efisien, bukan spektakuler tapi efektif.
Di sisi kanan, Saelemaekers tampil penuh determinasi. Pemain asal Belgia ini dikenal pekerja keras dan kali ini benar-benar menjadi motor serangan Milan.
Ia rajin membantu pertahanan, tapi juga berani menekan ke depan.
Sedangkan Touré (Salernitana, rating 7.0) mungkin paling underrated. Namun justru di situlah daya tariknya.
Ia jadi tembok hidup di tengah lapangan—membaca arah bola, menutup ruang, dan memberi keseimbangan yang membuat timnya tidak mudah hancur.
Pertahanan: Kokoh, Rapi, dan Penuh Karakter
Di lini belakang, trio Ostigard (Genoa, 7.0), Lucumí (Bologna, 7.5), dan Delprato (Parma, 7.5) tampil luar biasa.
Mereka bukan pemain dengan nama besar, tapi permainan mereka minggu ini pantas mendapat pujian.
Lucumí adalah jangkar sejati. Ia menjaga area pertahanan Bologna dengan disiplin tinggi. Tak banyak tekel brutal, tapi selalu tepat waktu. Ia tahu kapan maju, kapan bertahan—dan itulah seni bertahan modern yang jarang dibicarakan.
Delprato, bek muda Parma, adalah kejutan manis. Rating 7.5 yang ia dapat bukan hasil keberuntungan, tapi kerja keras yang rapi.
Ia menutup ruang, membaca arah bola dengan cepat, dan berani duel satu lawan satu.
Banyak pengamat menyebutnya sebagai salah satu bek muda paling matang di Serie A musim ini.
Sementara Ostigard dari Genoa tampil lugas dan tegas. Tak neko-neko, tapi efektif. I
a seperti dinding kokoh di jantung pertahanan—tidak spektakuler, tapi membuat kiper lebih tenang.
Caprile: Ketenangan yang Menular
Posisi penjaga gawang diisi Elia Caprile (Cagliari, rating 7.0). Tak banyak sorotan untuknya, tapi performanya minggu ini sangat menentukan.
Dalam situasi penuh tekanan, Caprile tampil tenang. Dua penyelamatan refleks cepatnya menjadi pembeda antara imbang dan kekalahan.
Yang menarik, Caprile adalah simbol regenerasi kiper Italia. Di tengah era Donnarumma dan Meret, muncul kiper muda dengan gaya klasik: tenang, tidak banyak gestur, tapi selalu ada di posisi yang tepat.
Ia seperti penjaga tradisional yang tahu seni bertahan bukan hanya soal refleks, tapi soal membaca arah bola dan mengatur barisan bek di depannya.
Pemain Cadangan yang Tak Kalah Menyala
Fantacalcio juga menyoroti pemain-pemain di bangku cadangan dengan rating tinggi, seperti Paleari, Çelik, Bernabé, Bonny, Leão, Piccoli, dan Dallinga, semuanya dengan nilai rata-rata 7.0.
Mereka mungkin tidak masuk Best XI utama, tapi kontribusinya tetap berpengaruh besar.
Rafael Leão, misalnya, meski tidak mencetak gol kali ini, tetap menjadi ancaman konstan lewat kecepatan dan kontrol bola yang memaksa bek lawan bekerja ekstra.
Sementara Bernabé dari Parma kembali membuktikan bahwa lini tengah muda mereka bukan kebetulan belaka.
Best XI Pekan Ini Cerminan Serie A yang Tak Lagi “Satu Warna”
Melihat susunan Best XI pekan ke-11 ini, ada pola menarik: liga Italia kini tak lagi didominasi pemain dari klub-klub raksasa.
Sassuolo, Genoa, Parma, bahkan Salernitana, kini punya wakil yang tampil di level tertinggi.
Ini menandakan kompetisi yang lebih merata. Pemain dari tim tengah kini mampu bersaing dalam hal performa, bukan hanya popularitas.
Secara tak langsung, ini juga menunjukkan bahwa proyek-proyek pembangunan pemain muda di klub-klub “kelas menengah” Serie A mulai membuahkan hasil.
Mereka bukan hanya tempat transit, tapi laboratorium talenta baru Italia.
Dari Statistik ke Karakter: Serie A yang Lebih Bernyawa
Fantacalcio, dalam versinya yang ke-11 pekan ini, tak hanya mengedepankan angka.
Rating diambil dari kombinasi statistik objektif dan penilaian subjektif berbasis dampak permainan.
Artinya, pemain yang punya pengaruh besar di lapangan—meski tanpa gol atau assist—tetap dihargai tinggi.
Karena itu, tak heran jika nama-nama seperti Touré, Ostigard, dan Caprile masuk daftar. Mereka mewakili sisi lain sepak bola: kerja keras tanpa sorotan.
Dan di situlah keindahan Serie A—liga yang dikenal bukan karena glamor, tapi karena kedalaman taktik dan semangat kolektifnya.
Pekan Para Pekerja Keras
Best XI pekan ini bisa dibilang bukan milik superstar, tapi milik para “pekerja sunyi”.
Dari Caprile di gawang, Lucumí di pertahanan, hingga Berardi di depan—semuanya menunjukkan bahwa sepak bola Italia masih hidup di bawah fondasi yang sama: disiplin, taktik, dan dedikasi.
Mereka mungkin tak viral di media sosial, tapi mereka membawa nilai yang tak tergantikan di lapangan.
Dalam dunia yang serba cepat ini, performa seperti inilah yang justru menegaskan: Serie A masih punya jiwa. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni