RADARTUBAN - PSSI Siapkan Kampanye Nasional Anti-Rasisme sebagai bentuk komitmen dalam menciptakan lingkungan olahraga yang sehat dan inklusif.
Langkah ini sejalan dengan semangat global yang digaungkan FIFA Players’ Voice Panel (PVP), lembaga yang digagas FIFA untuk melawan diskriminasi dan ujaran kebencian di dunia sepak bola.
Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, memberikan dukungan penuh terhadap inisiatif tersebut dan menegaskan pentingnya pendidikan karakter sejak usia muda.
“Pertemuan FIFA PVP di Rabat diharapkan semakin menguatkan pesan anti-rasisme kepada masyarakat dunia. Sepak bola adalah olahraga global dengan jangkauan luas yang dapat menyatukan banyak bangsa, termasuk Indonesia,” ujar Erick seperti dikutip dari situs resmi.
Melalui langkah ini, sepak bola Indonesia diharapkan dapat menjadi ruang aman bagi semua pihak, baik pemain, pelatih, maupun suporter, tanpa adanya diskriminasi berbasis ras, etnis, atau warna kulit.
Pendidikan Karakter Lewat Sepak Bola Sejak Dini
Dalam keterangan resmi, PSSI Siapkan Kampanye Nasional Anti-Rasisme dengan melibatkan sekolah sepak bola, akademi muda, dan klub profesional.
Program ini akan menanamkan nilai toleransi, sportivitas, dan saling menghargai dalam setiap aktivitas pelatihan.
Dukungan dari FIFA Players’ Voice Panel menjadi pengingat bahwa perlawanan terhadap rasisme bukan sekadar tanggung jawab institusi global, tetapi juga tugas moral setiap individu dalam sepak bola Indonesia
. Erick menekankan, edukasi sejak dini adalah kunci agar perilaku diskriminatif tidak tumbuh di generasi mendatang.
“Fenomena ini harus menjadi pelajaran bersama. Jangan sampai tindakan tidak etis di dunia maya maupun di lapangan justru mencoreng wajah sepak bola kita dan berujung pada sanksi atau denda dari FIFA,” jelas Erick Thohir.
Refleksi dan Tanggung Jawab Bersama
Selain langkah edukatif, PSSI Siapkan Kampanye Nasional Anti-Rasisme juga mencakup peningkatan pengawasan terhadap perilaku suporter dan aktivitas digital di media sosial.
Kampanye ini akan digerakkan melalui kompetisi nasional serta kolaborasi dengan komunitas suporter agar pesan keberagaman tersampaikan secara luas.
FIFA Players’ Voice Panel menjadi mitra penting dalam mendorong sepak bola Indonesia agar terus berbenah menuju ruang olahraga yang lebih beradab dan menghormati perbedaan.
Erick menegaskan bahwa semangat keberagaman yang menjadi kekuatan bangsa harus tercermin dalam perilaku semua elemen sepak bola.
Bagi Erick Thohir, perjuangan melawan rasisme bukan sekadar isu global, melainkan bagian dari tanggung jawab nasional untuk menjaga wajah sepak bola Indonesia agar tetap bersih dan bermartabat. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni