RADARTUBAN – Sebuah gol yang awalnya hanya dianggap momentum spontan kini berubah jadi cerita besar untuk sepak bola Indonesia.
Bek Persija Jakarta Rizky Ridho Ramadhani akhirnya buka suara setelah tembakan jauhnya ke gawang Arema FC resmi masuk nominasi FIFA Puskas Award 2025—penghargaan untuk gol terbaik dunia.
“Alhamdulillah, saya bersyukur bisa masuk nominasi Puskas Award. Jujur, saya tidak pernah membayangkan gol itu akan sejauh ini,” ujar Ridho dalam keterangan resmi klub, Jumat (14/11) dikutip dari JawaPos.com.
Gol Ridho tercipta pada pekan ke-26 Liga 1 2024/2025, tepatnya 9 Maret, di Stadion Patriot Candrabhaga, Bekasi.
Gol itu langsung meledak di jagat maya, bahkan terpilih sebagai Goal of the Season sebelum akhirnya FIFA memasukkannya ke daftar nominasi bersama 10 gol terbaik dari berbagai kompetisi dunia.
Proses Gol yang Kini Jadi Ikon
Momennya berawal dari situasi pertahanan. Ridho menguasai bola di kotak penalti sendiri, mengirim bola ke depan kepada Ryo Matsumura, lalu sprint panjang tanpa pengawalan.
Ryo yang membaca ruang dengan presisi mengirimkan umpan terobosan jauh ke depan, tepat ke jalur larinya.
Sisa ceritanya adalah insting, keberanian, dan ketenangan. Dari jarak yang tak lazim, Ridho melepaskan tembakan melambung yang terbang mulus ke gawang Arema.
Lucas Frigeri yang berdiri terlalu jauh hanya terpaku, menyaksikan bola mendarat ke pojok atas jala Singo Edan. Stadion terdiam sekejap, lalu pecah.
Gol itu tak hanya mengubah skor, tapi mengingatkan publik bahwa sepak bola Indonesia bisa melahirkan momen berkelas dunia.
Tetap Rendah Hati: “Gol Itu Lahir karena Kerja Sama Tim”
Meski namanya menembus panggung global, Ridho menolak larut dalam euforia. Ia justru menegaskan bahwa gol itu bukan murni hasil aksi individunya.
“Saya ucapkan terima kasih kepada rekan-rekan setim, tim pelatih, ofisial, dan seluruh Jakmania yang selalu mendukung. Gol itu lahir karena kerja sama tim, bukan semata-mata aksi individu,” tuturnya.
Pernyataan itu menggambarkan sikapnya sejak lama—kapten yang tidak banyak bicara tapi selalu menanggung beban besar di lapangan.
Baca Juga: Cadiz CF Pancing Respons Netizen Indonesia, Nama Rizky Ridho Langsung Jadi Sorotan
Harapan untuk Persija: “Semoga Jadi Motivasi”
Ridho berharap pencapaian tersebut bukan hanya miliknya, tetapi juga menjadi pemantik semangat seluruh skuad Macan Kemayoran.
“Semoga ini bisa menjadi motivasi bagi kami semua untuk terus berjuang lebih baik,” tegas mantan bek Persebaya Surabaya itu.
Bagi Persija, nominasi ini jelas bukan hal kecil. Nama klub terbawa ke panggung global, dan publik dunia kembali menoleh pada sepak bola Indonesia berkat satu tendangan yang lahir di Bekasi.
Kini, penentu nasibnya ada di tangan FIFA. Namun bagi banyak pendukung, gol itu sudah lebih dari sekadar nominasi—ia telah menjadi simbol keberanian, improvisasi, dan kualitas sepak bola lokal yang mulai menemukan gemanya di panggung internasional.
Daftar 11 Nominasi Puskás Award 2025
Dalam daftar resmi FIFA Puskás Award 2025, Ridho tampil berdampingan dengan nama-nama dari klub raksasa dunia, termasuk aksi-aksi kelas internasional seperti laga Arsenal vs Real Madrid hingga Espanyol vs Barcelona.
Di barisan itu, wajah Ridho hadir sebagai representasi Asia Tenggara—dan lebih penting lagi, representasi Indonesia.
Berikut daftar lengkap nominasinya:
- Alejandro Souza alias Alerrandro – Vitória vs Cruzeiro
- Alessandro Deiola – Cagliari vs Venezia
- Pedro de La Vega – Cruz Azul vs Seattle Sounders
- Santiago Montiel – Independiente vs Independiente Rivadavia
- Amr Nasser – Al Ahly vs Pharco
- Carlos Orrantía – Querétaro vs Atlas
- Lucas Ribeiro – Mamelodi Sundowns vs Borussia Dortmund
- Declan Rice – Arsenal vs Real Madrid
- Rizky Ridho – Persija Jakarta vs Arema
- Kevin Rodrigues – Kasımpaşa vs Rizespor
- Lamine Yamal – Espanyol vs Barcelona
Di antara nama-nama dari Liga Champions Afrika, kompetisi Eropa, sampai Liga MLS dan Liga Argentina, berdiri satu nama dari Indonesia: Rizky Ridho. Ini bukan cuma soal gol.
Ini soal representasi. Dan, untuk yang satu ini, nama Ridho sejajar dengan bintang muda Barcelona, Lamine Yamal! (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni