Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Simon Tahamata Bongkar Masalah Utama Pemain Muda Indonesia: Mental dan Karakter Masih Rapuh

Bihan Mokodompit • Sabtu, 15 November 2025 | 22:10 WIB

Kepala pemandu bakat timnas Indonesia, Simon Tahamata.
Kepala pemandu bakat timnas Indonesia, Simon Tahamata.

RADARTUBAN - Dalam proses scouting yang dilakukan enam bulan terakhir, Simon Tahamata melihat bahwa pemain muda Indonesia memiliki kemampuan teknis yang cukup menjanjikan.

Namun ia menegaskan, aspek mental dan karakter justru menjadi titik yang paling memerlukan perhatian serius.

Menurutnya, talenta tanpa mentalitas yang kuat hanya akan membuat pemain mudah tersisih dalam persaingan.

Simon mengatakan, “Banyak pemain punya kemampuan teknis bagus, cepat, dan kreatif.

Tapi yang masih perlu dibangun adalah disiplin dan mental bertanding. Bakat itu penting, tapi tanpa karakter, pemain akan cepat hilang.”

Pernyataan ini memperkuat gambaran bahwa Mental dan Karakter Pemain Muda Indonesia adalah fondasi yang belum cukup kokoh dibanding aspek teknik.

Penilaian Karakter Lebih Penting dari Sekadar Skill

Simon mengungkapkan bahwa prosesnya bukan hanya mencari talenta sepak bola Indonesia, tetapi juga memahami bagaimana seorang anak memandang karier sepak bola. Ia menilai komitmen sebagai syarat awal sebelum bicara kemampuan teknis.

Ia mengatakan, “Jika ada talenta pemain yang datang, saya mau bicara dengan pemain itu. Saya akan tanya, kamu mau menjadi pemain bola? Mau bagaimana? Apa perasaan menjadi pemain bola? Jika sedikit ada saja perasaan yang tidak total atau ragu-ragu, saya terus terang katakan, jangan! Tapi jika datang dengan hati kuat mau jadi pemain sepakbola hebat, maka kita akan lihat kemampuannya.”

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Simon memprioritaskan mentalitas sebelum teknik, sebuah pendekatan yang sangat umum di akademi besar dunia, termasuk Ajax Amsterdam.

Tantangan Besar: Membangun Disiplin Sejak Dini

Dalam pandangan Simon, Masalah Utama Pemain Muda Indonesia tidak lepas dari kurangnya pembinaan disiplin sejak usia dini.

Di Eropa, calon pemain dipantau sejak umur 8 tahun, sementara di Indonesia proses seleksi baru dimulai pada usia 13–14 tahun.

Ia menyampaikan, “Di Belanda sejak usia 8 tahun, sudah ada seleksi bagi calon-calon pemain masa depan. Di Indonesia, terus terang, sudah terlambat dengan bikin seleksi dengan umur lebih muda lagi.”

Perbedaan sistem yang cukup jauh membuat pembentukan karakter dan mental bertanding berjalan lebih lambat dibanding standar sepak bola Eropa.

Talenta Ada, Tapi Perlu Penguatan Mental

Simon menyebut bahwa talenta sepak bola Indonesia tersebar di banyak daerah dan potensinya terlihat dari berbagai kunjungannya ke Pulau Jawa, Maluku, hingga Palu.

Meski demikian, ia tetap menegaskan bahwa kekuatan teknik harus dibarengi mental kuat agar talenta tersebut tidak hilang begitu saja.

Dengan demikian, pembinaan mental dan karakter menjadi kebutuhan mendesak dalam rangka memaksimalkan potensi pemain muda Indonesia di level internasional.

Pembinaan Harus Menyentuh Aspek Kepribadian

Melalui evaluasinya, Simon Tahamata menegaskan bahwa Masalah Utama Pemain Muda Indonesia bukan sekadar soal skill, melainkan mentalitas, disiplin, dan karakter.

Penguatan mental bertanding menjadi kunci penting untuk membawa talenta sepak bola Indonesia mencapai level kompetitif yang lebih tinggi. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#Simon Tahamata #karakter #pemain muda indonesia #mental