RADARTUBAN - Pembahasan mengenai Florian Wirtz Liverpool semakin menghangat seiring kritik yang diarahkan kepada gelandang muda tersebut setelah performanya dianggap belum sesuai ekspektasi.
Meski demikian, beberapa tokoh terdekat sang pemain menilai bahwa perjalanan adaptasi ini masih berada dalam tahap yang wajar.
Pandangan itu memunculkan diskusi baru mengenai bagaimana Performa Wirtz dibentuk oleh dinamika permainan di Premier League yang sangat berbeda dari masa keemasannya di Bayer Leverkusen.
Baca Juga: Pasca Tinggalkan Liverpool, Kini Darwin Nunez Dikabarkan Bakal Kembali ke Premier League
Kritik Keras Mengalir, Tapi Wirtz Dibilang Masih Sesuai Jalur
Sorotan tajam terhadap Florian Wirtz Liverpool meningkat setelah ia belum mencatat gol maupun assist di Premier League hingga pertengahan November.
Bahkan Gary Neville menilai Performa Wirtz menurun signifikan saat Liverpool kalah 0–3 dari Manchester City.
Mantan bek sayap Manchester United itu berkata, “Wirtz adalah sebuah masalah… Saya kira Wirtz terlihat seperti anak kecil.”
Namun, ayah sang pemain, Hans Wirtz, menilai komentar tersebut tidak mencerminkan kondisi sebenarnya. Ia menegaskan bahwa proses adaptasi putranya berjalan normal:
“Kurang dari sepertiga musim telah berjalan. Sejauh ini, semuanya berlangsung seperti yang diharapkan; ini adalah proses adaptasi yang sepenuhnya normal, dan sama sekali tidak bergantung pada biaya transfer mana pun.”
Dalam perspektif Hans, statistik Florian Wirtz Liverpool menunjukkan keterlibatan permainan yang sudah baik, meski gol dan assist belum terlihat. Pernyataan itu juga sejalan dengan penilaian Julian Nagelsmann yang menyebut:
“Mungkin Liverpool juga bisa membantunya dengan memanfaatkan beberapa peluang yang ia ciptakan.”
Di Leverkusen Bersinar, di Liverpool Justru Kekurangan Sentuhan
Penurunan Performa Wirtz tidak hanya soal final output. Simon Rolfes, sosok yang membawa Wirtz dari akademi Köln ke Bayer Leverkusen, menilai bahwa playmaker itu kesulitan menemukan ritme karena kurangnya sentuhan bola.
Menurut Rolfes, “Flo berkembang lewat permainan kombinasi, tetapi saat ini Liverpool belum benar-benar menyatu sebagai sebuah tim.”
Data mendukung pernyataan tersebut. Saat masih bersama Bayer Leverkusen, ia mencatat lebih dari 80 sentuhan per laga dan menjadi pusat serangan.
Namun kini, saat tampil melebar dalam skema Florian Wirtz Liverpool, jumlah sentuhannya turun drastis menjadi 57,7 per pertandingan di Premier League.
Penurunan terjadi tak hanya pada total sentuhan. Sentuhan di sepertiga akhir lapangan dan kotak penalti juga anjlok, sehingga kreativitas Performa Wirtz tereduksi secara signifikan.
Situasi ini memperjelas perbedaan besar antara permainan kombinasi Leverkusen dan intensitas ketat di Inggris.
Adaptasi Berjalan Lambat, Tapi Tidak Ada Tanda Bahaya
Meski grafik Performa Wirtz terlihat menurun, banyak pihak sepakat bahwa proses adaptasi di Premier League memang lebih menantang.
Lingkungan baru, ritme permainan berbeda, hingga penempatan posisi yang tidak sepenuhnya familiar membuat perjalanan Florian Wirtz Liverpool masih panjang.
Tidak ada tanda bahwa ia gagal. Justru, seluruh data menunjukkan bahwa memberikan lebih banyak bola dan peran sentral akan membantu mengembalikan kualitas yang pernah ia tunjukkan di Bayer Leverkusen.
Dengan dukungan tim dan konsistensi menit bermain, peluang Wirtz kembali bersinar tetap terbuka lebar. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni