RADARTUBAN - Kualifikasi Piala Dunia Zona Eropa akhirnya menyentuh garis finish.
Drama bersusun di banyak kota, dari Glasgow sampai Bursa, dari Brussels sampai Stockholm.
Ada yang berpesta, ada yang terdiam, dan ada yang justru memeluk asa terakhir lewat jalur play-off.
Semua terangkum dalam satu malam yang terasa seperti balapan maraton yang baru menentukan pemenangnya di tikungan akhir.
Baca Juga: Tiga Raksasa Eropa di Tepi Jurang: Italia, Jerman, Portugal Terancam Absen Piala Dunia 2026
Para Juara Grup: Dominan, Stabil, dan Tak Tergoyahkan
12 negara menyegel tiket otomatis. Sebagian tampil meyakinkan sejak laga pembuka—Inggris misalnya, yang menyapu bersih delapan laga tanpa kebobolan satu gol pun.
Catatan absurd yang menjelaskan mengapa pelatih Thomas Tuchel bisa berjalan dengan dada terangkat.
Prancis dan Kroasia juga menunjukkan wajah khas mereka: rapi, efisien, dan tidak memberi ruang bagi drama tidak perlu.
Jerman sebagai langganan Piala Dunia tetap menjaga wibawa, sementara Portugal dan Belgia mendikte pertandingan dengan agresi yang stabil.
Norwegia menjadi kisah lain. Mereka menyapu bersih delapan laga—hasil yang membuat generasi emas Erling Haaland akhirnya menjejak panggung Piala Dunia tanpa lagi ditanya “kapan?”.
Belanda, Swiss, Skotlandia, Spanyol, dan Austria—semuanya menyelesaikan tugas dengan tingkat kontrol yang menunjukkan satu pesan: Eropa tidak kekurangan tim yang siap masuk ke putaran final dengan kepala tegak.
Para Runner-up: Harus Memutar Lebih Jauh
Sebanyak 12 runner-up kini antre di jalur play-off. Tidak ada ruang keluhan, yang tersisa hanya pilihan: bertarung atau pulang.
Italia mungkin jadi nama paling mencolok di jalur ini. Juara Piala Dunia 2006 itu harus menghadapi lagi jalan panjang yang pernah membuat mereka gagal ke Qatar.
Denmark, Polandia, dan Turki juga harus merapikan detail sebelum masuk pertarungan hidup-mati.
Kosovo mencatat sejarah tersendiri—mereka meraih tiket play-off lewat performa stabil di Grup B.
Sementara Albania kembali menunjukkan konsistensi yang membuat mereka tidak bisa lagi dipandang sebagai tim pelengkap.
Slovakia, Republik Ceko, Irlandia, Bosnia, dan Wales melengkapi barisan tim yang harus bekerja dua kali lipat untuk memeluk mimpi berlaga tahun depan.
UNL Jadi Jalan Tikus yang Menyelamatkan
Empat negara—Irlandia Utara, Swedia, Rumania, dan Macedonia—gagal di klasemen utama tapi mendapat tiket play-off dari jalur UEFA Nations League.
Bagi mereka, play-off bukan sekadar bonus, tetapi peringatan bahwa peluang bisa datang dari jalur apa saja asalkan konsistensi dipertahankan.
Swedia menjadi sorotan tersendiri. Mereka mengakhiri fase grup tanpa kemenangan, tapi performa UNL menyelamatkan muka sekaligus memberi napas ekstra.
Malam Penuh Gol: Skor Besar dan Pelampiasan
Beberapa laga penutup terasa seperti pesta kembang api. Belgia menggilas Liechtenstein 7-0 tanpa ampun.
Wales membalas dengan skor identik 7-1 atas Macedonia, seakan mengirim pesan bahwa mereka tidak datang ke play-off untuk berwisata.
Rumania, yang akhirnya harus menerima jalur play-off, juga merayakan kemenangan 7-1 atas San Marino, meski skor besar itu tak mengubah takdir mereka.
Skotlandia memetik kemenangan meyakinkan 4-2 atas Denmark di salah satu laga paling bernafas—dua gol hadir pada menit 90+.
Spanyol vs Turki menyuguhkan adu taktik yang berakhir 2-2. Austria ditahan Bosnia 1-1, dan Swiss gagal menjaga kemenangan setelah Kosovo mencuri gol penyama di menit akhir.
Semua terjadi dalam tempo yang membuat Eropa tampak seperti panggung drama yang tak pernah kehabisan babak baru.
Peta Lolos: Siapa yang Sudah Aman, Siapa yang Masih Gelisah
Lolos langsung (12 negara):
Inggris, Prancis, Kroasia, Portugal, Norwegia, Jerman, Belanda, Swiss, Skotlandia, Spanyol, Austria, Belgia.
Play-off (12 runner-up):
Albania, Ukraina, Republik Ceko, Irlandia, Italia, Slovakia, Polandia, Kosovo, Denmark, Turki, Bosnia, Wales.
Play-off via Nations League (4 negara):
Irlandia Utara, Swedia, Rumania, Macedonia.
Eropa kini tinggal menyisakan satu babak: play-off yang selalu penuh badai. Setiap laga bisa menjadi penentu nasib sebuah generasi. Yang sudah lolos boleh tenang. Yang akan bertarung harus menyingkirkan semua rasa ragu.
Piala Dunia tinggal selangkah lagi. Tetapi langkah yang tersisa ini sering kali justru yang paling berat. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni