RADARTUBAN – Ada fakta yang mencubit nadi kebanggaan sepak bola Indonesia, datang dari laporan akun X @wallpassjournal.
Dari seluruh negara yang pernah tampil di Piala Dunia sebelum Perang Dunia II, hanya Indonesia (1938) dan Kuba (1938) yang belum pernah kembali lolos hingga hari ini.
Dua nama yang seolah terjebak di lorong sejarah, menunggu pintu yang tak kunjung terbuka lagi.
Indonesia: Debut yang Jadi Monumen Senyap
Indonesia—saat itu masih bernama Hindia Belanda—menjadi negara Asia pertama yang tampil di Piala Dunia 1938.
Sebuah pencapaian besar yang ironisnya berubah menjadi monumen senyap: terpampang, dibanggakan, tetapi tak pernah bisa dirayakan ulang.
Delapan dekade berlalu, sepak bola Indonesia tumbuh, jatuh, bangun, lalu jatuh lagi.
Generasi berganti, kursi federasi berpindah tangan, kompetisi naik-turun kualitas, tetapi tiket Piala Dunia tetap berada di luar jangkauan.
Fakta dari @wallpassjournal ini bukan sekadar angka; ia seperti cermin retak yang memantulkan perjalanan panjang tanpa kepastian.
Kuba: Saudara Senasib dari Karibia
Kuba pun memiliki kisah yang mirip: tampil di Prancis 1938 dan tidak pernah datang lagi. Namun bagi Indonesia, posisi ini terasa lebih mengganjal.
Negeri dengan ratusan juta penduduk, fanbase fanatik, stadion-stadion besar, dan kultur sepak bola mengakar… tetapi prestasi global mandek di satu titik yang bahkan generasi sekarang hanya mengenalnya lewat arsip.
Kenapa Indonesia Tak Pernah Kembali?
Jawabannya panjang dan pahit:
- Kompetisi domestik yang lama tidak stabil.
- Infrastruktur yang tumbuh lambat.
- Pembinaan usia muda yang kerap terputus.
- Konflik federasi yang berulang.
- Prioritas negara yang berubah-ubah.
Dan ketika semua itu ditumpuk bersama, jarak ke Piala Dunia bukan sekadar jauh—ia seperti garis cakrawala: terlihat, tetapi tak pernah bisa diraih.
Baca Juga: Ancelotti Beri Neymar Waktu 6 Bulan untuk Buktikan Layak Bermain di Piala Dunia 2026
Di Tengah Ambisi Baru, Fakta Ini Seperti Alarm
Era sepak bola modern Indonesia sedang berubah. Infrastruktur membaik, talenta muda tumbuh, naturalisasi digarap, federasi mulai lebih rapi.
Namun fakta dari @wallpassjournal tetap berdiri seperti alarm keras: Indonesia belum kembali sejak 1938.
Dan pertanyaannya sederhana tapi menghantam:
Kapan bangsa besar sepak bola seperti Indonesia akhirnya kembali menulis sejarah di panggung yang sama?
Sejauh ini, jawabannya masih tersimpan di masa depan. Tetapi catatan 1938 itu tak boleh terus menjadi satu-satunya halaman.
Indonesia harus menambah bab baru—atau fakta pahit ini akan terus mengiringi perjalanan panjang sepak bola kita. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni