RADARTUBAN — Tidak banyak bek yang bisa menutup tahun sebrilian Rizky Ridho.
Tepat memasuki usia 24 tahun, palang pintu Timnas Indonesia dan Persija Jakarta itu menatap ulang perjalanan setahun yang terasa seperti deretan penghargaan beruntun.
Akun X @TimnasXtra merangkum pencapaiannya, dan daftar itu terlihat seperti portofolio bintang yang sedang memuncak.
Ridho bukan sekadar konsisten. Ia mendobrak.
Arek Suroboyo itu membuktikan bahwa pemain bertahan pun bisa berada di panggung utama tanpa harus menjadi striker haus gol.
Best XI, Goal of the Season, dan Penghargaan Berlapis APPI
Musim Liga 1 2024/2025 menempatkan namanya dalam Best XI—pengakuan yang menunjukkan bahwa kontribusinya tidak bisa diperdebatkan.
Yang lebih mengejutkan, Ridho juga meraih Liga 1 Goal of the Season 24/25, sebuah pencapaian langka untuk seorang bek.
Gol yang biasanya ia jaga agar tidak terjadi, justru ia ciptakan dengan kualitas yang membuatnya mengungguli para penyerang top.
Dari APPI (Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia), Ridho menyapu tiga penghargaan sekaligus:
- Bek Terbaik 24/25
- Tim Terbaik Musim 24/25
- Gol Terbaik 24/25
Tidak banyak pemain lokal yang mampu masuk tiga kategori dalam satu musim.
Ridho melakukannya tanpa ingar-bingar, hanya dengan kerja keras dan ketenangan khas pemain besar.
Nama Indonesia Masuk Meja Global: FIFPro dan FIFA
Pencapaian Ridho musim ini bukan hanya urusan domestik. Pemain kelahiran 21 November 2001 itu juga terpilih masuk FIFPro Global Award Council, semacam forum kehormatan yang menampung elite pesepakbola dunia.
Menjadi bagian dari kelompok itu menegaskan bahwa namanya mulai bergaung di luar batas Liga 1.
Kejutan berikutnya datang dari FIFA: Ridho masuk sebagai nominee Puskás Award, sebuah kategori yang biasanya hanya diisi oleh gol-gol dari liga besar Eropa atau momen viral Piala Dunia.
Namun tahun ini, nama seorang bek Indonesia bertengger di daftar bergengsi itu.
Untuk Timnas maupun sepak bola Indonesia, ini bukan sekadar kebanggaan—ini tonggak sejarah.
Ulang Tahun ke-24: Hadiah Terbaik Sudah Datang Lebih Dulu
"Mengucapkan selamat ulang tahun ke-24 untuk Rizky Ridho!," tulis @TimnasXtra.
Ucapan sederhana, tetapi terasa pas. Karena untuk Ridho, hadiah utama sebenarnya sudah ia terima sepanjang musim: pengakuan, pencapaian, dan panggung internasional yang mulai memanggil.
Usia 24 masih terlalu muda bagi seorang bek puncak.
Biasanya karier defensif mencapai masa emas di usia 27–30.
Jika Ridho sudah setenang dan sekuat ini sekarang, sulit membayangkan di mana ia akan berada dalam beberapa tahun ke depan.
Untuk saat ini, sepak bola Indonesia layak berbangga.
Rizky Ridho sedang menulis bab terbaik dalam kariernya—dan baru saja meniup lilin ulang tahun yang ke-24 dengan status sebagai salah satu ikon baru sepak bola nasional. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni