RADARTUBAN - Como 1907 mulai terlihat seperti tim yang menolak tunduk pada realitas.
Tim yang dimiliki keluarga Hartono, bos Djarum itu baru dua musim promosi, tapi tingkah lakunya sudah seperti penghuni papan atas.
Kemenangan 2-0 atas Sassuolo, lewat sontekan A. Douvikas menit 14 dan penyelesaian dingin Alberto Moreno di menit 53, menjadi penguat cerita besar yang sedang ditulis Cesc Fabregas: 14 laga tanpa kalah dari total 15 pertandingan di semua ajang musim ini.
Catatan yang membuat banyak klub tua Serie A harus menengok dua kali.
Data itu mencuat dari akun X @TouchlineX, namun geliatnya terasa langsung di meja klasemen. Como kini bertengger di peringkat enam dengan 24 poin dari 13 laga.
Mereka hanya sejangkauan napas dari Roma, Milan, hingga Napoli, dan tak jauh dari Inter maupun Bologna.
Untuk tim yang baru dua musim menginjakkan kaki di panggung utama, posisi ini bukan kejutan—ini peringatan.
Bermain Disiplin ala Fabregas
Fabregas meramu timnya dengan cara yang tenang tapi tegas. Allenatore asal Spanyol itu tidak mencari perhatian lewat kata-kata, tapi lewat cara Como mengontrol ruang, ritme, dan situasi pertandingan.
Di tangan mantan dirijen lini tengah Arsenal dan Barcelona itu, Como bermain seperti tim yang sudah bertahun-tahun kenyang pengalaman. Tidak mewah, tapi disiplin; tidak flamboyan, tapi efektif.
Kemenangan atas Sassuolo bukan sekadar tiga poin. Itu adalah bukti bahwa struktur yang dibangun Fabregas mulai memadat.
Lini tengah terhubung mulus, tekanan dilakukan dengan timing matang, dan serangan Como selalu terlihat percaya diri—tanpa ragu ketika menyodok, tanpa panik ketika bertahan.
Laboratorium Sepak Bola Modern
Yang membuat kisah ini makin bernyawa adalah latar tempatnya. Klub di tepi Danau Como, yang dulu lebih dikenal karena panorama wisata ketimbang prestasi olahraga, kini berubah menjadi laboratorium sepak bola modern.
Fabregas memilih jalan terjal: bukan melatih klub mapan, melainkan merintis proyek yang butuh kesabaran panjang. Namun kini, hasilnya mulai memenuhi janji.
Dengan rangkaian tak terkalahkan ini, Como bukan lagi dongeng manis promosi. Mereka sudah menjelma ancaman serius.
Bila konsistensi ini bertahan, Serie A harus siap menghadapi kemungkinan yang tak pernah dibayangkan beberapa tahun lalu: Como, klub pendatang dengan motor seorang maestro, siap mengganggu tatanan para raksasa. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni