RADARTUBAN - Rafael Leão sedang berada di titik ketika bakat besar tak lagi sekadar janji, tapi menjelma ancaman nyata di depan gawang.
Dalam enam laga terakhir, winger yang kini dipoles sebagai striker oleh pelatih AC Milan Massimiliano Allegri itu mencetak lima gol plus satu assist—angka yang menegaskan kebangkitan yang tak lagi bisa diabaikan.
Teranyar, Leao menjadi bintang kemenangan Milan atas Lazio lewat gol tunggalnya di menit ke-51.
Kemenangan yang mengantarkan Rossoneri memuncaki klasemen sementara menggusur AS Roma.
Allegri, yang dikenal tak mudah memuji apalagi berlebihan, justru mengeluarkan pernyataan yang langsung memantik sorotan Serie A.
“Dia bisa jadi striker top dunia,” ujar Allegri dikutip dari unggahan akun X jurnalis kenamaan Fabrizio Romano.
Kalimat yang terdengar datar itu justru menunjukkan keyakinan kuat seorang pelatih yang melihat potensi lebih besar ketimbang sekadar statistik.
Transformasi dari Sayap ke Nomor 9
Di Milanello, transformasi Leão terasa nyata. Kecepatan yang sebelumnya banyak terbuang di sayap kini diarahkan lurus ke jantung pertahanan lawan.
Sentuhannya lebih agresif, geraknya lebih terukur. Leão seakan menemukan panggung yang selama ini tertunda: peran ujung tombak yang memaksimalkan intuisi menyerangnya.
Tak heran bila kini pemain yang memiliki nama lengkap Rafael Alexandre da Conceição Leão itu menembus jajaran top skor Serie A, melewati deretan nama yang selama ini identik dengan papan atas.
Menandai Fase Baru di Milan
Start musim yang “fantastis”—begitu para analis menyebutnya—menandai fase baru yang tak hanya memuaskan para tifosi Milan, tapi juga memutar kembali narasi lama bahwa Leão hanyalah pemain yang bermain mengandalkan momen.
Di bawah Allegri, momen itu berubah menjadi pola. Konsisten. Berulang. Berbahaya.
Dan jika prediksi sang pelatih benar, Serie A mungkin saja sedang menyaksikan lahirnya striker besar berikutnya—yang dulunya hanya dikenal sebagai winger bertalenta dari Portugal, kini berubah menjadi mesin gol yang mulai menetaskan reputasi baru. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni