RADARTUBAN – Tidak ada yang lebih menyakitkan bagi sebuah klub besar selain melihat papan klasemen dan menemukan namanya tercecer paling bawah.
Itulah potret pahit yang kini harus ditelan Fiorentina.
Setelah 14 pertandingan Serie A musim ini, La Viola resmi menjadi juru kunci—tanpa satu pun kemenangan. David de Gea dkk baru mengoleksi 6 poin!
Data yang dirilis akun X @eurofootcom menelanjangi krisis tersebut tanpa basa-basi. Fiorentina hanya mampu mengumpulkan hasil imbang dan kekalahan.
Tak ada momen kebangkitan, tak ada laga yang bisa dijadikan titik balik.
Rentetan hasilnya berbicara keras. Fiorentina membuka musim dengan imbang 1-1 melawan Cagliari, lalu kembali mandek saat ditahan Torino 0-0.
Derita berlanjut saat Napoli membungkam mereka 3-1 dan Como mencuri kemenangan 2-1.
Berlaga alot, tapi bukan efektif—imbang tanpa gol melawan Pisa, lalu kalah tipis dari Roma dan Milan dengan skor identik 2-1.
Gagal Menjaga Stabilitas
Masalahnya bukan sekadar kalah. Fiorentina juga gagal menjaga stabilitas.
Saat mampu menyamakan kedudukan 2-2 melawan Bologna, harapan kembali muncul—hanya untuk kembali dipatahkan Inter dengan kekalahan telak 3-0.
Lecce, tim yang biasanya berada di level yang sama, pun sanggup menjinakkan Fiorentina 1-0.
Hasil imbang kontra Genoa (2-2) dan Juventus (1-1) sempat memperlihatkan daya juang, tetapi lagi-lagi tak berlanjut.
Kekalahan dari Atalanta (2-0) dan teranyar disikat Sassuolo (3-1) menutup rangkaian buruk yang membuat situasi semakin genting.
Jika ditarik benang merah, masalah Fiorentina bukan cuma soal hasil akhir.
Produktivitas gol tumpul, pertahanan rapuh di momen krusial, dan ketidakmampuan mengunci pertandingan sudah menjadi pola, bukan insiden.
Terlalu sering mereka tertinggal, dan saat berhasil menyamakan skor, sorak optimisme tak pernah bertahan lama.
Kandidat Serius Degradasi
Yang lebih mengkhawatirkan, krisis ini datang tanpa tanda-tanda perlawanan jelas dari dalam tim.
Rotasi tak memberi dampak signifikan, dan konsistensi permainan nyaris tak terlihat.
Setiap pekan berlalu, tekanan makin berat—bukan hanya di ruang ganti, tapi juga dari publik Artemio Franchi yang mulai kehilangan kesabaran.
Serie A tidak menunggu siapa pun. Tanpa perubahan konkret, Fiorentina bukan lagi sekadar tim besar yang sedang terseok, melainkan kandidat serius degradasi.
Dan untuk ukuran klub dengan sejarah serta ambisi Eropa, kenyataan ini bukan hanya memalukan—tapi berbahaya. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama