RADARTUBAN – Derby Tuban perdana di Liga 4 Kapal Api Piala Gubernur Jawa Timur 2025 berakhir tanpa selebrasi. Tanpa pemenang. Tanpa gol.
Duel dua tim se-kabupaten antara Persatu Tuban dan Bumi Wali FC hanya menyisakan tensi, hujan, serta kekecewaan di Stadion Tuban Sport Center, Selasa (9/12).
Laga yang sedari awal dipromosikan sebagai panggung pembuktian Persatu justru berubah menjadi ujian kesabaran.
Tim berjuluk Laskar Ronggolawe, yang diunggulkan publik, tak sepenuhnya lepas dari tekanan.
Bumi Wali FC tampil disiplin dan berani sejak peluit awal, memaksa Persatu bekerja lebih keras untuk sekadar mengalirkan bola dengan nyaman.
Alih-alih mendikte permainan, Persatu sempat kewalahan menghadapi agresivitas dan organisasi permainan Laskar Sunan Bonang.
Sejumlah serangan cepat Bumi Wali FC membuat lini belakang Persatu harus ekstra waspada, sekaligus mematahkan ekspektasi bahwa derby akan berjalan satu arah.
Kokohnya pertahanan dua tim membuat babak pertama berjalan alot. Ruang sempit, duel keras, dan minim peluang bersih menjadi warna utama hingga jeda. Skor kacamata bertahan, menahan degup ribuan pasang mata di tribun.
Memasuki babak kedua, intensitas tak menurun. Kedua pelatih melakukan rotasi, mencoba mengubah ritme.
Persatu berusaha meningkatkan tempo, Bumi Wali FC tetap tenang menunggu celah. Peluang datang silih berganti, namun penyelesaian akhir gagal memberi perbedaan.
Menjelang menit-menit akhir, langit Tuban menurunkan hujan. Lapangan basah kian menambah panas suasana.
Benturan antar pemain semakin sering terjadi. Gengsi derby terasa penuh di setiap duel, tapi papan skor tetap membeku hingga peluit panjang ditiup.
Persatu Kecewa Tak Bisa Menang
Skor 0-0 memaksa kedua tim berbagi satu poin—hasil yang lebih terasa pahit bagi Persatu.
Pelatih kepala Persatu Tuban, Khoirul Anam, tidak menutupi rasa kecewanya.
“Tentu ini hasil yang tidak kita inginkan, dengan hasil ini tentu ada banyak evaluasi yang harus dilakukan untuk memenangkan dua pertandingan selanjutnya,” ujarnya.
Pelatih asal Gresik itu juga menyoroti faktor jadwal Grup C yang padat dan ekstrem.
“Setelah bertanding hari ini (kemarin, Red) kami hanya memiliki waktu recovery satu hari, kemudian langsung bertanding lagi. Saya rasa semua tim mengeluhkan ini, tentu sangat tidak efektif dan tidak cukup untuk melakukan evaluasi. Wajar jika banyak pemain yang kelelahan,” keluhnya.
Baca Juga: Bukan Sekadar Derby—Persatu dan Bumi Wali FC Pertaruhkan Harga Diri di Stadion TSC Tuban
Modal Berharga Tatap Pertandingan Selanjutnya
Nada berbeda datang dari kubu Bumi Wali FC. Pelatih kepala Sunarno menilai hasil imbang ini sebagai modal berharga.
“Jika dari segi persiapan, saya rasa Persatu bakal lebih unggul, tapi pada pertandingan ini semangat juang para pemain membuktikan bahwa apa pun bisa terjadi di dalam lapangan. Hasil ini tetap harus disyukuri,” tuturnya.
Sunarno menegaskan, satu poin dari derby sarat gengsi ini menjadi bahan bakar motivasi timnya.
“Setelah ini kami akan fokus untuk menatap pertandingan selanjutnya, kami optimistis bisa lolos grup C,” tandas pelatih asal Sidoarjo tersebut.
Derby Tuban memang berakhir tanpa gol, tetapi menyisakan pesan jelas: di level lokal, nama besar bukan jaminan. Di tengah hujan dan tekanan suporter, satu poin bisa menjadi alarm—atau justru awal kebangkitan. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni