Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Atalanta Terbang di Liga Champions, Terjungkal di Serie A: Paradoks Tajam dari Bergamo

Tulus Widodo • Rabu, 10 Desember 2025 | 21:38 WIB
Tim skuad Atalanta yang bakal bertemu Parma.
Tim skuad Atalanta yang bakal bertemu Parma.

RADARTUBAN – Raffaele Palladino mungkin tersenyum kecil di Bergamo, tapi raut itu jelas bercampur keheranan.

Atalanta baru saja menaklukkan Chelsea 2-1 di Liga Champions UEFA, sebuah kemenangan yang kembali menegaskan: La Dea adalah tim yang berbeda saat tampil di panggung Eropa.

Di Stadion Atleti Azzurri d’Italia, Rabu (10/12) dini hari WIB, Atalanta menunjukkan karakter yang selama ini membuat mereka disegani di kompetisi antarnegara.

Gianluca Scamacca menyamakan kedudukan di menit ke-55, sebelum Charles De Ketelaere—nama yang lama dicari konsistensinya—muncul sebagai penentu di menit ke-83. Chelsea hanya sempat memimpin lewat gol Joao Pedro menit ke-25.

Hasil itu membawa Atalanta kukuh di peringkat ketiga klasemen Liga Champions dengan 13 poin.

Dengan dua laga tersisa, tambahan tiga poin saja hampir pasti mengamankan tiket langsung ke delapan besar.

Sebuah pencapaian yang mencerminkan stabilitas, kematangan taktik, dan keberanian mereka menghadapi tim besar Eropa.

Data dan posisi klasemen itu ditegaskan akun X @IFTVofficial, sumber yang kerap menjadi rujukan perkembangan sepak bola Eropa.

Terseok-seok di Serie A

Namun justru di sinilah ironi itu terasa menohok. Saat Atalanta terlihat “terbang” di Liga Champions, kenyataan domestik berkata sebaliknya.

Di Serie A, klub asal Bergamo itu masih tertahan di peringkat ke-12. Jauh dari citra agresif dan penuh percaya diri yang mereka pamerkan di Eropa.

Perbedaannya bukan sekadar soal hasil, tapi juga aura permainan. Di Liga Champions, Atalanta bermain lepas, menekan tinggi, dan berani mengambil risiko.

Lawan-lawan besar justru memberi mereka ruang untuk berlari dan memukul balik.

Sementara di Serie A, Atalanta sering berhadapan dengan tim yang bertahan rendah—memaksa kreativitas dan kesabaran ekstra yang tak selalu mereka miliki.

Paradoks ini membuka satu pertanyaan besar: Atalanta ini sebenarnya tim elite yang belum menemukan ritme domestik, ataukah spesialis kompetisi yang hidup dari atmosfer Eropa?

Baca Juga: Drama Serie A : Pelatih Atalanta Ivan Jurić di Ujung Tanduk, Raffaele Palladino Siap Naik Takhta!

Atalanta Masih Tahu Cara Menang

Palladino paham betul bahwa euforia Eropa tak bisa menjadi pelarian. Serie A tetaplah cermin konsistensi sejati.

Tapi untuk saat ini, Bergamo boleh menikmati satu fakta sederhana: ketika lampu sorot Liga Champions menyala, Atalanta masih tahu cara tampil intimidatif, berani, dan—yang paling penting—menang.

Dan bagi para pendukungnya, mungkin ada satu penghiburan pahit-manis: kalau Serie A terasa berat, Eropa selalu menjadi panggung di mana Atalanta merasa benar-benar di rumah. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#Liga Champions #Atalanta #eropa #serie A #chelsea #UEFA