RADARTUBAN – Harapan yang sempat menggantung di udara akhirnya jatuh di menit-menit krusial.
Di bawah tekanan ribuan pasang mata, Persatu Tuban nyaris tumbang pada laga perdana babak 32 besar Grup BB Liga 4 Kapal Api Piala Gubernur Jawa Timur 2025.
Hingga akhirnya, satu gol penyeimbang dari Reza “Jepang” Maulana menyelamatkan Laskar Ronggolawe dari kekalahan saat ditahan imbang Triple’s Kediri dengan skor 1-1, Senin (5/1).
Sejak peluit awal dibunyikan di Stadion Tuban Sport Center, atmosfer laga langsung terasa panas.
Ribuan suporter memadati tribun, menuntut kemenangan di kandang sendiri. Namun dukungan besar itu justru menjelma tekanan psikologis bagi penggawa Persatu.
Alih-alih tampil lepas, sejumlah peluang yang tercipta kerap berujung miskomunikasi.
Alur serangan tersendat, transisi tak rapi, dan tempo permainan lebih sering dikendalikan emosi ketimbang skema.
Baca Juga: Persatu Tuban Tak Sepenuhnya Meyakinkan Meski Menang atas Akor FC
Gol Putra Maulana Membungkam Stadion
Petaka datang di menit ke-30. Memanfaatkan kelengahan lini belakang Persatu, Putra Maulana sukses menaklukkan Rafi Ardiono.
Skor 1-0 untuk keunggulan Triple’s Kediri membuat Stadion Tuban Sport Center mendadak senyap hingga jeda turun minum.
Triple’s tampil efektif. Tak banyak menguasai bola, namun disiplin membaca ruang dan sabar menunggu kesalahan tuan rumah.
Babak Kedua: Tekanan Bertubi-tubi Persatu
Memasuki babak kedua, Persatu Tuban mengubah pendekatan. Serangan dilancarkan bertubi-tubi, dengan Rendi Setiawan menjadi poros utama di lini depan.
Namun rapatnya pertahanan Triple’s Kediri membuat setiap upaya kerap kandas di sepertiga akhir.
Waktu terus berjalan. Tekanan meningkat. Harapan mulai menipis.
Reza Jepang dan Gol Penyelamat Harga Diri
Momentum itu akhirnya datang di menit ke-70. Memanfaatkan celah di lini belakang lawan, Reza “Jepang” Maulana melepaskan penyelesaian yang tak mampu dibendung.
Gol tersebut bukan hanya mengubah skor, tetapi juga menyelamatkan harga diri tuan rumah di laga pembuka.
Skor 1-1 bertahan hingga peluit akhir. Kedua tim harus puas berbagi poin.
Evaluasi Pelatih Persatu: Mental dan Finishing
Pelatih kepala Persatu Tuban Slamet Sampurno mengakui tekanan laga perdana sangat mempengaruhi penampilan anak asuhnya.
Slamet menilai banyak pemain masih diliputi rasa gugup, yang berdampak pada miskomunikasi di lapangan.
Kondisi diperparah dengan sejumlah pemain inti yang mengalami cedera dan harus ditarik keluar di babak pertama.
“Banyak momen yang harusnya bisa menjadi gol, namun lagi-lagi finishing menjadi persoalan lini depan tim ini,” ujar eks pelatih Mitra Surabaya itu.
Menurut Slamet, hasil imbang ini akan menjadi bahan evaluasi penting sebelum menatap laga berikutnya.
“Pertandingan perdana ini akan menjadi bahan evaluasi untuk bangkit di pertandingan selanjutnya,” tandas pelatih asal Lumajang tersebut.
Triple’s Kediri: Sudah Prediksi Laga Sulit
Di kubu lawan, pelatih kepala Triple’s Kediri Mohammad Abdullah Choirul Umar mengaku sejak awal telah memprediksi duel sengit menghadapi tuan rumah.
“Harus diakui, tidak mudah memang menghadapi tim tuan rumah, terutama di bawah tekanan suporter,” ujarnya.
Choirul menambahkan, kebangkitan Persatu di babak kedua membuat anak asuhnya kewalahan menahan gempuran.
Hasil imbang ini menjadi catatan tersendiri, mengingat Triple’s Kediri datang ke babak 32 besar dengan rekor kemenangan sempurna.
“Setelah ini kami akan langsung fokus menatap laga selanjutnya,” pungkasnya.
Satu poin mungkin bukan hasil ideal bagi Persatu Tuban. Namun dari gol Reza Jepang, terselip pesan penting: Laskar Ronggolawe masih hidup—dan babak 32 besar baru saja dimulai. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni